Pembuahan Tunggal dan Pembuahan Ganda Tanaman Tingkat Tinggi

Pada tumbuhan tingkat tinggi dikenal dengan 2 macam pembuahan yakni pembuahan tunggal dan pembuahan ganda. Pembuahan tunggal ini terjadi pada gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka) sedangkan untuk pembuahan ganda akan terjadi pada angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup).

A. Pembuahan Tunggal
Pembuahan tunggal terjadi pada tumbuhan Gymnospermae atau tumbuhan berbiji terbuka. Berikut adalah urutan/langkah pembuahannya:
1. Pembuahan tunggal diawali dengan peristiwa menempelnya serbuk sari pada lubang bakal biji yang mengandung tetes-tetes penyerbukan.
2. Serbuk sari selanjutnya membentuk buluh serbuk sari yang berkembang dari sel vegetatif di dalam serbuk sari.
3. Buluh serbuk sari tumbuh mengarah ke arkegonium melalui mikrofil.
4. Sementara itu, sel generatif akan membelah menjadi sel dislokator (tangkai sel) dan sel spermatogen (sel tubuh),
5. Sel spermatogen akan membelah menjadi dua, yang satu berukuran besar dan yang satunya berukuran kecil.
6. Pada saat mencapai sel telur, sel dislokator dan sel sperma kecil melebur (degenerasi)
7. Sel sperma besar bersatu dengan sel telur menghasilkan zigot yang akan tumbuh menjadi embrio atau lembaga.

Contoh Pembuahan tunggal adalah pada tumbuhan pinus. Tumbuhan ini memiliki struktur reproduksi yang disebut konus karena pinus tidak menghasilkan bunga. Konus terdiri atas dua jenis, konus jantan dan konus betina yang terdapat pada pohon yang sama.

Konus betina lebih bersisik dan lebih besar dibandingkan dengan konus jantan. Konus jantan menghasilkan mikrospora yang akan berkembang menjadi sebuk sari (gametofit jantan) dan konus betina menghasilkan megaspora yang akan tumbuh menjadi gametofit betina.

Proses penyerbukan dibantu oleh angin, serbuk sari akan jatuh pada konus betina dan ditarik masuk ke dalam bakal biji. Serbuk sari akan membentuk tabung serbuk sari yang berfungsi membuka jalan menuju sel telur. Sel sperma dari serbuk sari akan membuahi sel telur dan terjadi pembuahan menghasilkan zigot. Pembuahan pada pinus disebut sebagai pembuahan tunggal karena hanya terjadi pembuahan untuk menghasilkan zigot. Sedangkan pembuahan ganda pada angiospermae terjadi dua macam pembuahan dengan hasil zigot dan endosperma.
Zigot akan berkembang menjadi embrio yang masih terdapat di dalam gametofit betina. Gametofit betina menyediakan persediaan makanan bagi embrio pinus. Biji tumbuhan pinus terdiri atas embrio yang terletak dalam jaringan gametofit betina yang dibungkus oleh selaput biji. Selain itu, biji pinus memiliki struktur mirip sayap agar biji pinus mudah diterbangkan oleh angin sehingga dapat tumbuh di tempat yang jauh dari induknya.

Yang unik dari tumbuhan pinus adalah bahwa proses pembuahan pembuahan terjadi lebih dari satu tahun setelah proses penyerbukan. Hal ini didukung dengan struktur konus yang keras dan tidak cepat busuk sehingga bisa bertahan sangat lama, berbeda dengan bunga yang angiospermae yang hanya dapat bertahan selama beberapa hari saja.

2. Pembuahan Ganda
Angiospermae mengalami pembuahan ganda untuk membentuk embrio dan cadangan makanan (endosperma). Disebut pembuahan ganda karena memang terjadi dua kali proses pembuahan yaitu:

Peleburan inti generatif 1 dengan ovum (sel telur) membentuk zigot yang akan berkembang menjadi embrio.

Peleburan inti generatif 2 dengan inti kandung lembaga sekunder membentuk endosperma (cadangan makanan).

Pembuahan akan diawali terlebih dahulu oleh proses penyerbukan, yaitu jatuhnya serbuk sari pada kepala putik. Inti sel dalam serbuk sari akan membelah membentuk inti vegetatif, inti generatif 1, dan inti generatif 2. Setelah beberapa saat, serbuk sari akan berkecambah membentuk tabung serbuk sari sebagai jalan menuju kantung embrio. Kantung embrio terdapat pada dasar putik dan merupakan tempat terjadinya pembuahan. Inti sel serbuk sari nantinya akan berjalan di sepanjang tabung serbuk sari untuk mencapai kantung embrio tersebut.

Inti vegetatif akan berjalan di depan inti generatif karena berperan sebagai penunjuk jalan bagi kedua inti generatif tersebut. Setelah sampai di kantung embrio, inti generatif 1 akan membuahi ovum membentuk zigot dan inti generatif 2 akan membuahi inti kandung lembaga sekunder membentuk endosperma.

Sel telur yang bersifat haploid (n) akan dibuahi inti generatif 1 yang bersifat haploid (n) sehingga akan menghasilkan zigot yang bersifat diploid (2n). Inti kandung lembaga sekunder akan dibuahi oleh inti generatif 2 sehingga terbentuk endosperma. Endosperma bersifat triploid (3n) karena merupakan penyatuan 2 inti kandung lembaga sekunder dan inti generatif 2 yang masing-masing bersifat haploid.
Zigot nantinya akan berkembang menjadi embrio calon individu baru, sedangkan endosperma merupakan cadangan makanan bagi perkembangan embrio. Endosperma akan digunakan sebagai sumber makanan pertama pada proses perkecambahan biji.

Struktur dan Anatomi Benih

A. Pengertian dan Fungsi Benih

Biji merupakan bagian yang berasal dari bakal biji dan di dalamnya mengandung calon individu baru, yaitu lembaga. Lembaga akan terjadi setelah terjadi penyerbukan atau persarian yang diikuti oleh pembuahan.
Biji (bahasa Latin:semen) adalah bakal biji (ovulum) dari tumbuhan berbunga yang telah masak. Dari sudut pandang evolusi, biji merupakan embrio atau tumbuhan kecil yang termodifikasi sehingga dapat bertahan lebih lama pada kondisi kurang sesuai untuk pertumbuhan
Biji merupakan bagian tumbuhan yang terbentuk dari hasil pembuahan (fertilisasi) yang terletak di dalam bakal buah.Di dalam bakal buah terdapat bakal biji.Di dalam bakal biji terdapat embrio yang merupakan calon individu.
Perbedaan fungsi yang mendasar antara biji dengan benih adalah biji digunakan untuk kepentingan konsumsi manusia dan ternak sementara benih adalah biji yang digunakan untuk bahan pertanaman atau perbanyakan tanaman.
Setiap embrio di dalam bakal biji atau benih terdiri atas akar lembaga, daun lembaga, dan batang lembaga.
1. Akar lembaga (radikula), merupakan calon akar.
2. Daun lembaga (kotiledon), merupakan daun pertama pada tumbuhan. Berfungsi sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis sebelum daun sebenarnya terbentuk. Bagian ini juga berfungsi untuk menimbun cadangan makanan
3. Batang lembaga, dibedakan menjadi ruas batang di atas daun lembaga dan ruas batang di bawah daun lembaga. Daun lembaga dan batang lembaga sering juga disebut plumula (puncak lembaga). (Hidayat:1995)
Pada Angiospermae, bakal biji terbungkus oleh daun buah, sedangkan pada Gymnospermae tidak. Biji atau benih berfungsi sebagai penyimpan cadangan makanan dan alat penyebaran tumbuhan. Penyebaran benih dapat terjadi dengan bantuan angin, air, kelelawar, dan manusia.
1) Angin, contoh : kapuk
2) Air, contoh : kelapa
3) Kelelawar, contoh : sawo kecik
4) Manusia contoh : kina dan berbagai jenis tumbuhan yang bernilai ekonomi. (Suradinata:1998)
B. Struktur Anatomi Biji
1. Bagian Biji Sebelah Dalam
Pada bagian biji sebelah dalam terdapat embrio dan bagian-bagian embrio yaitu akar embrio (radicula), batang embrio (cauliculus) dan keping biji (cotyledo).
Lembaga dan putih lembaga merupakan inti biji atau isi biji.Bagian ini terdapat di dalam kulit biji.Lembaga atau embrio terdiri atas akar lembaga (radikula), daun lembaga (kotiledon), dan batang lembaga. Putih lembaga terdiri atas putih lembaga dalam (endosperma) dan putih lembaga luar (perisperma).
Bagian embrio, seperti radikula akan berkembang menjadi akar. Pada tumbuhan Dicotyledoneae, radikula akan berkembang menjadi akar tunggang. Pada Monocotyledoneae, akar tersebut akan berkembang menjadi akar primer, namun masa hidupnya tidak lama karena segera diganti oleh sistem akar sekunder. Kotiledon pada biji dapat berfungsi sebagai tempat penimbunan makanan, alat untuk berfotosintesis sementara, dan sebagai alat untuk menghisap makanan dari putih lembaga.Batang lembaga terdiri atas epikotil dan hipokotil. Epikotil adalah pemanjangan ruas batang di atas kotiledon, sedangkan hipokotil adalah pemanjangan ruas batang di bawah kotiledon.Batang lembaga dan calon-calon daun merupakan bagian lembaga yang disebut plumula. (Yatim: 2007)
Bagian putih lembaga, seperti endosperma merupakan cadangan makanan pada biji. Berdasarkan pembentukannya, endosperma berasal dari sel induk endosperma yang telah dibuahi oleh sel sperma. Perisperma merupakan putih lembaga luar.Bagian ini berasal dari nuselus atau selaput bakal biji.
a. Selaput biji (arillus)
Selaput biji merupakan pertumbuhan dari tali pusar.Pada biji ada kalanya tali pusar ikut tumbuh dan berubah sifatnya menjadi selaput biji (arillus).Salut biji ada yang berdaging, misalnya pada biji durian dan ada yang berair misalnya pada biji rambutan.Serta ada juga yang menyerupai kulit dan hanya menutupi sebagian biji, misalnya pada biji pala.( Hidayat: 1995)
b. Embrio
Embrio adalah suatu tanaman baru yang terjadi dari bersatunya gamet-gamet jantan dan betina pada suatu proses pembuahan. Embrio yang perkembangannya sempurna akan memiliki struktur sebagai berikut: epikotil (calon pucuk), hipokotil (calon akar) dan kotiledon (calon daun). ( Suradinata: 1998)

c. Cadangan Makanan
Cadangan makanan merupakan kandungan yang ada dalam biji, baik dalam jumlah sedikit maupun banyak. Biji yang sedikit atau bahkan tidak ada. Cadangan makanan disebut biji eskalbumin. Cadangan makanan berfungsi sebagai jaringan penyimpan. Cadangan makanan memperkuat daya serap biji akan hara yang diperlukan tumbuhan dalam perkembangannya. Cadangan makanan bersel kecil berwarna putih agak kelabu, berdinding tipis, mengandung butir aleuron dan tetes minyak serta bahan cadangan tersimpan di dalam selnya. (Suradinata: 1998)
Perkembangan cadangan makanan umunya dimulai sebelum perkembangan embrio. Cadangan makanan berkembang dari pembelahan mitosis inti endosperm yang dihasilkan dari peleburan salah satu gamet jantan dengan 2 inti kutub atau dengan inti sekunder. Cadangan makanan tersebut kaya akan zat – zat makanan, yang disediakan bagi embrio yang sedang berkembang. Pada biji ada beberapa struktur yang dapat berfungsi sebagai jaringan penyimpan cadangan makanan yaitu:
1) Kotiledon, misal pada kacang-kacangan (Legumes), semangka (Citrullus vulgaris Schrad), labu (Cucurbita pepo L).

2) Endosperm, misal pada jagung (Zea mays L), gandum (Triticum aestivum L) dan golongan cerealia lainnya. Pada kelapa (Cocos nucifera bagian dalamnya yang berwama putih dan dapat dimakan adalah merupakan endospermnya. (Yatim: 2007)

2. Bagian Biji Luar
a. Lapisan kulit dalam (tegmen).
Biasanya tipis seperti selaput, disebut juga dengan kulit ari.Pada tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae), kulit biji terdiri dari tiga lapisan sebagai berikut.
1) Kulit luar (sarcotesta), biasanya tebal berdaging. Pada waktu masih muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kuning, dan akhirnya merah.
2) Kulit tengah (sclerotesta), suatu lapisan yang kuat, keras, dan berkayu.
3) Kulit dalam (endotesta), biasanya tipis seperti selaput dan seringkali melekat erat pada inti. (Hidayat: 1995)

b. Lapisan kulit luar (testa).
Pelindung biji terdiri atas kulit biji, sisa-sisa nucleus, endosperm dan kadang-kadang bagian dari buah. Tetapi umumnya kulit biji (testa) berasal dari integument ovule yang mengalami modifikasi selama proses pembentukan biji berlangsung.
Kulit biji (testa) berkembang dari jaringan integumen yang semula mengitari ovula (bakal biji). Tatkala biji masak, kulit biji ini dapat setipis kertas (misalnya pada kacang tanah) atau tebal dan keras seperti pada kelapa. Kulit biji ini berguna untuk menjaga lembaga (embrio) dari kekeringan dan kerusakan mekanis.
Biasanya kulit luar biji keras dan kuat berwama kecoklatan sedangkan bagian dalamnya tipis dan berselaput. Kulit biji berfungsi untuk melindungi biji dari kekeringan, kerusakan mekanis atau serangan cendawan, bakteri dan insekta. (Campbell:2008)

c. Sayap (ala) dan Rambut (coma)
Berbagai jenis tumbuhan mempunyai alat tambahan yang berupa sayap pada kulit luar biji, dengan demikian biji tumbuhan tersebut mudah penyebarannya oleh angin. Misalnya pada biji kelor dan mahoni. Selain sayap ada juga beberapa tumbuhan yang memiliki rambut atau bulu halus yang berasal dari penonjolan sel-sel kulit luar biji. Bulu halus ini memudahkan beterbangannya biji oleh tiupan angin. Misalnya pada biji kapas dan biji randu. (Campbell:2008)

C. Perbedaan Biji Monokotil dan Dikotil
1. Biji Monokotil
Tumbuhan berkeping biji tunggal (atau monokotil) adalah salah satu dari dua kelompok besar tumbuhan berbunga yang bijinya tidak membelah karena hanya memiliki satu daun lembaga. Biji monokotil memiliki endosperma sehingga makanan untuk pertumbuhan embrio berasal dari endosperma. (yatim: 2007)
2. Biji Dikotil
Tumbuhan berbiji belah atau tumbuhan berkeping biji dua adalah segolongan tumbuhan berbunga yang memiliki ciri khas yang sama dengan memiliki sepasang daun lembaga(kotiledon:daun yang terbentuk pada embrio) berbentuk sejak dalam tahap biji sehingga biji sebagian besar anggotanya bersifat mudah terbelah dua. Biji dikotil tidak memiliki endosperma. Makanan untuk pertumbuhan embrio berasal dari kotiledon. (Hidayat: : 1995)

Hormon yang berperan pada benih dan pertumbuhan tanaman

Pertumbuhan adalah proses pertambahan volume yang irreversible  (tidak dapat kembali lagi yang disebabkan adanya pembelahan mitosis atau pembesaran sel. Alat untuk mengukur pertumbuhan disebut dengan Auksanometer.
Perkembangan adalah terspesialisasinya sel-sel menjadi struktur dan fungsi tertentu. Perkembangan tidak dapat diukur dengan ukuran, tetapi dapat dinyatakan dengan perubahan bentuk dan tingkat kedewasaan. Perkembangan awal suatu tumbuhan secara garis besar melalui tiga tahap, yaitu : pembelahan sel, morfogenesis, dan difesensiasi seluler.
1.      Pembelahan sel
Zigot didalam biji tumbuhan mengalami pembelahan sel mitosis membentuk jaringan embrional.
2.      Morfogenesis (perkembangan bentuk)
Embrio yang terbentuk di dalam biji memiliki kotiledon dan akar serta tunas rudimeter. Sesudah berkecambah, akar dan tunas rudimeter tersebut akan berkembang membentuk sistem akar dan tunas tumbuhan. Proses ini yang dinamakan morfogenesis.
3.      Diferensiasi seluler
Pada tahap ini, jaringan embrional terus berkembang menjadi struktur dengan fungsi khusus yang akan dimiliki saat dewasa.
Pertumbuhan dan perkembangan tidak terlepas dari pengaruh hormon, hormon-hormon yang berpengaruh dalam perumbuhan dan perkembangan meliputi :

Hormon Auksin
Auksin adalah zat hormon tumbuhan yang ditemukan pada ujung batang, akar, dan pembentukan bunga yang berfungsi untuk sebagai pengatur pembesaran sel dan memicu pemanjangan sel di daerah belakang meristem ujung. Auksin berperan penting dalam pertumbuhan tumbuhan. Peran auksin pertama kali ditemukan oleh ilmuwan Belanda bernama Fritz Went (1903-1990).

Fungsi dari hormon auksin ini dalah membantu dalam proses mempercepat pertumbuhan, baik itu pertumbuhan akar maupun pertumbuhan batang, mempercepat perkecambahan, membantu dalam proses pembelahan sel, mempercepat pemasakan buah, mengurangi jumlah biji dalam buah. kerja hormon auksin ini sinergis dengan hormon sitokinin dan hormon giberelin.

Cara kerja hormon Auksin adalah menginisiasi pemanjangan sel dan juga memacu protein tertentu yg ada di membran plasma sel tumbuhan untuk memompa ion H+ ke dinding sel. Ion H+ mengaktifkan enzim ter-tentu sehingga memutuskan beberapa ikatan silang hidrogen rantai molekul selulosa penyusun dinding sel. Sel tumbuhan kemudian memanjang akibat air yg masuk secara osmosis.

Auksin merupakan salah satu hormon tanaman yang dapat meregulasi banyak proses fisiologi, seperti pertumbuhan, pembelahan dan diferensiasi sel serta sintesa protein (Darnell, dkk., 1986).
Auksin diproduksi dalam jaringan meristimatik yang aktif (yaitu tunas, daun muda, dan buah) (Gardner, dkk., 1991). Kemudian auxin menyebar luas dalam seluruh tubuh tanaman, penyebarluasannya dengan arah dari atas ke bawah hingga titik tumbuh akar, melalui jaringan pembuluh tapis (floom) atau jaringan parenkhim (Rismunandar, 1988). Auksin atau dikenal juga dengan IAA = Asam Indolasetat (yaitu sebagai auxin utama pada tanaman), dibiosintesis dari asam amino prekursor triptopan, dengan hasil perantara sejumlah substansi yang secara alami mirip auxin (analog) tetapi mempunyai aktifitas lebih kecil dari IAA seperti IAN = Indolaseto nitril,TpyA = Asam Indolpiruvat dan IAAld = Indolasetatdehid. Proses biosintesis auxin dibantu oleh enzim IAA-oksidase (Gardner, dkk., 1991).

Auksin pertama kali diisolasi pada tahun 1928 dari biji-bijian dan tepung sari bunga yang tidak aktif, dari hasil isolasi didapatkan rumus kimia auksin (IAA = Asam Indolasetat) atau C10H9O2N. Setelah ditemukan rumus kimia auksin, maka terbuka jalan untuk menciptakan jenis auksin sintetis seperti Hidrazil atau 2, 4 – D (asam -Nattalenasetat), Bonvel Da2, 4 – Diklorofenolsiasetat), NAA (asam (asam 3, 6 – Dikloro – O – anisat/dikambo), Amiben atau Kloramben (Asam 3 – amino 2, 5 – diklorobenzoat) dan Pikloram/Tordon (asam 4 – amino – 3, 5, 6 – trikloro – pikonat).

Auksin sintetis ini sudah digunakan secara luas dan komersial di bidang pertanian, di mana batang, pucuk dan akar tumbuh-tumbuhan memperlihatkan respons terhadap auksin, yaitu peningkatan laju pertumbuhan terjadi pada konsentrasi yang optimal dan penurunan pertumbuhan terjadi pada konstrasi yang terlalu rendah atau terlalu tinggi.
Setelah pemanjangan ini, sel terus tumbuh dengan mensintesis kembali material dinding sel dan sitoplasma. Selain memacu pemanjangan sel, hormon Auksin yang dikombinasikan dengan Giberelin dapat memacu pertumbuhan jaringan pembuluh dan mendorong pembelahan sel pada kambium pembuluh sehingga mendukung pertumbuhan diameter batang.
 
Hormon Giberelin
Giberelin merupakan hormone yang berfungsi sinergis (bekerja sama) dengan hormon auksin. Giberelin berpengaruh terhadap perkembangan dan perkecambahan embrio. Giberelin akan merangsang pembentukan enzim amylase. Enzim tersebut berperan memecah senyawa amilum yang terdapat pada endosperm (cadangan makanan) menjadi senyawa glukosa. Glukosa merupakan sumber energy pertumbuhan. Apabila giberelin diberikan pada tumbuhan kerdil, tumbuhan akan tumbuh normal kembali.
Giberelin juga berfungsi dalam proses pembentukan biji, yaitu merangsang pembentukan serbuk sari (polen), memperbesar ukuran buah, merangsang pembentukan bunga, dan mengakhiri masa dormansi biji. Giberelin dengan konsentrasi rendah tidak merangsang pembentukan akar, tetapi pada konsentrasi tinggi akan merangsang pembentukan akar.

Giberelin pertama kali diisolasi dari jamur Giberrella fujikuroi. Hormone giberelin dapat dibagi menjadi berbagai jenis, yaotu giberelin A, giberelin A2, dan giberelin A3 yang memiliki struktur molekul dan fungsi yang sangat spesifik. Misalnya, hormone giberelin yang satu berpengaruh terhadap pertumbuhan, sedangkan yang alin berpengaruh terhadap pembentukan bunga.

Zat pengatur tumbuh tanaman yang dihasilkan oleh tanaman disebut fitohormon, sedangkan yang sintetik disebut zat pengatur tumbuh tanaman sintetik. Hormon tanaman didefinisikan sebagai senyawa organik bukan nutrisi yang aktif dalam jumlah kecil yang disintesiskan pada bagian tertentu dari tanaman dan pada umumnya diangkut ke bagian lain tanaman dimana zat tersebut menimbulkan tanggapan secara biokimia, fisiologis dan morfologis.
Menurut definisi tersebut hormon tanaman harus memenuhi beberapa syarat berikut, yaitu : (1) senyawa organik yang dihasilkan oleh tanaman sendiri, (2) harus dapat ditranslokasikan, (3) tempat sintesis dan kerja berbeda, (4) aktif dalam konsentrasi rendah. Dengan batasan-batasan tersebut vitamin dan gula tidak termasuk dalam hormon. Dikenal 5 golongan fitohormon yaitu auksin, giberelin, sitokinin, asam absisat dan etilen.

Pada umumnya, hormon mengontrol pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, dengan mempengaruhi pembelahan sel, perpanjangan sel, dan diferensiasi sel. Suatu hormon tidak hanya berperan atau bekerja dalam satu macam proses fisiologi, namun kadang-kadang dalam pengaturan berbagai proses. Setiap hormon mempunyai efek ganda tergantung pada : tempat kegiatannya, konsentrasinya, dan stadia perkembangan tumbuhannya. Hormon tumbuhan, diproduksi dalam konsentrasi rendah, tetapi sejumlah kecil hormon dapat membuat efek yang sangat besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan organ suatu tumbuhan.

Giberelin (GA) merupakan hormon yang dapat ditemukan pada hampir semua seluruh siklus hidup tanaman. Hormon ini mempengaruhi perkecambahan biji, batang perpanjangan, induksi bunga, pengembangan anter, perkembangan biji dan pertumbuhan pericarp. Selain itu, hormon ini juga berperan dalam respon menanggapi rangsang dari melalui regulasi fisiologis berkaitan dengan mekanisme biosntesis GA. Giberelin pada tumbuhan dapat ditemukan dalam dua fase utama yaitu giberelin aktif (GA Bioaktif) dan giberelin nonaktif. Giberelin yang aktif secara biologis (GA bioaktif) mengontrol beragam aspek pertumbuhan dan perkembangan tanaman, termasuk perkecambahan biji, batang perpanjangan, perluasan daun, dan bunga dan pengembangan benih. Hingga tahun 2008 terdapat lebih lebih dari seratus GA telah diidentifikasi dari tanaman dan hanya sejumlah kecil dari mereka, seperti GA1 dan GA4, diperkirakan berfungsi sebagai bioaktif hormon.
Giberelin (GA) adalah kelompok asam diterpenoid yang berfungsi sebagai pengatur pertumbuhan tanaman inflencing berbagai proses perkembangan pada tumbuhan tingkat tinggi termasuk pemanjangan batang, perkecambahan, dormansi, berbunga, ekspresi seks, induksi enzim dan daun dan penuaan buah.

Hormon giberelin secara alami terdapat pada bagian tertentu tumbuhan yaitu pada buah dan biji saat berkecambah. Giberelin pertama kali ditemukan pada tumbuhan sejenis jamur Giberella fujikuroi (Fusarium moniliformae) oleh F.Kurusawa, seorang berkebangsaan Jepang di tahun 1930-an. Ketika itu, ia sedang mengamati penyakit Banane pada tumbuhan padi. Padi yang terserang oleh sejenis jamur memiliki pertumbuhan yang cepat sehingga batangnya mudah patah. Jamur ini kemudian diberi nama Gibberella fujikuroi yang menyekresikan zat kimia bernama giberelin. Giberelin ini kemudian diteliti lebih lanjut dan diketahui banyak berperan dalam pembentukan bunga, buah, serta pemanjangan sel tumbuhan. Kubis yang diberi hormon giberelin dengan konsentrasi tinggi, akan mengalami pemanjangan batang yang mencolok.

Pengaruh giberelin terhadap pertumbuhan tanaman. Giberelin adalah zat tumbuh yang sifatnya sama atau menyerupai hormon auksin, tetapi fungsi giberelin sedikit berbeda dengan auksin. Fungsi giberelin adalah membantu pembentukan tunas/ embrio, Jika embrio terkena air, embrio menjadi aktif dan melepaskan hormon giberelin (GA). Hormon ini memacu aleuron untuk membuat (mensintesis) dan mengeluarkan enzim. Enzim yang dikeluarkan antara lain: enzim α-amilase, maltase, dan enzim pemecah protein. Menghambat

perkecambahan dan pembentukan biji. Hal ini terjadi apabila giberelin diberikan pada bunga maka buah yang terbentuk menjadi buah tanpa biji dan sangat nyata mempengaruhi pemanjangan dan pembelahan sel. Hal itu dapat dibuktikan pada tumbuhan kerdil, jika diberi giberelin akan tumbuh normal, jika pada tumbuhan normal diberi giberelin akan tumbuh lebih cepat. Fungsi hormon giberelin dapat dirangkum sebagai berikut:
• Menyebabkan tanaman berbunga sebelum waktunya
• Menyebabkan tanaman tumbuh tinggi
• Memacu aktivitas kambium
• Menghasilkan buah yang tidak berbiji
• Membantu perkecambahan biji
Pengaruh Giberelin pada Pertumbuhan Batang. Giberelin seperti halnya auksin memegang peranan penting dalam pertumbuhan batang, namun dapat menyebabkan pertumbuhan batang menjadi terlalu panjang. Sebaris jagung kerdil dapat dibuat supaya tumbuh seperti jagung biasa dengan memberinyaGiberelin berkali-kali. Anehnya, pertumbuhan jagung biasa tidak dapat ditingkatkan dengan giberelin.
 
Sitokinin
Sitokinin adalah hormon yang berperan dalam pembelahan sel (sitokinesis). Fungsi sitokinin adalah :
·         Merangsang pembentukan akar dan batang serta pembentukan cabang akar dan batang dengan menghambat dominansi apical
·         Mengatur pertumbuhan daun dan pucuk
·         Memperbesar daun muda
·         Mengatur pembentukan bunga dan buah
·         Menghambat proses penuaan dengan cara merangasang proses serta transportasi garam-garam mineral dan asam amino ke daun.
Sitokinin diperlukan bagi pembentukan organel-organel semacam kloroplas dan mungkin berperan dalam perbungaan
Merangsang sintesis protein dan RNA untuk mensintesis substansi lain.

Senyawa sitokinin pertama kali ditemukan pada tanaman tembakau dan disebut kinetin. Senyawa ini dibentuk pada bagian akar dan ditrasportasikan ke seluruh bagian sel tanaman tembakau. Senyawa sitokinin juga terdapat pada tanaman jagung dan disebut zeatin.
 
Hormon Sitokinin berfungsi mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi akar, mendorong pembelahan sel dan pertumbuh-an secara umum, mendorong perkecambahan, dan menunda penuaan. Cara kerja hormon Sitokinin yaitu dapat meningkatkan pembelahan, pertumbuhan dan perkembangan kultur sel tanaman. Sitokinin juga dapat menunda penuaan daun, bungan, dan buah dgn cara mengontrol dgn baik proses kemunduran yg menyebabkan kematian sel-sel tanaman. Hormon Sitokinin diproduksi pada akar.

Sitokinin sering juga dengan kinin, merupakan nama generik untuk substansi pertumbuhan yang khususnya merangsang pembelahan sel (sitokinesis) (Gardner, dkk., 1991).  Selanjutnya dijelaskan kinin disintesis dalam akar muda, biji dan buah yang belum masak dan jaringan pemberi makan (misalnya endosperm cair).  Buah jagung, pisang, apel, air kelapa muda dan santan kelapa yang belum tua merupakan sumber kinin yang kaya.
Kinin terbentuk dengan cara fiksasi suatu rantai beratom C – 5, ke suatu molekul adenin.  Rantai beratom C – 5 dianggap berasal dari isoprena.  Basa purin merupakan penyusun kimia yang umum pada kinin alami maupun kinin sintetik  (Millers, 1955 dalam Wilkins, 1989).  Biosintesis sitokinin dengan bahan dasar mevalonic acid.
Sebenarnya sudah sejak tahun 1892 ahli fisologi I. Wiesner, menyatakan bahwa aktivitas pembelahan sel membutuhkan zat yang spesifik dan adanya keseimbangan antara faktor-faktor endogenous.  Secara pasti baru tahun 1955 sitokinin ditemukan oleh C.O. Miller, Falke Skoog, M.H. Von Slastea dan F.M. Strong dinyatakan sebagai isolasi zat yang disebut kinetin dari DNA yang diautoklap,  sangat  aktif  sebagai  promotor    mitosis  dan  pembelahan  sel  kalus (Moree, 1979).
Selanjutnya dijelaskan  bahwa kata sitokinin berasal dari pengertian cytokinesis yang berarti pembelahan sel.  Sitokinin alami ditemukan oleh D.S. Lethan dan C.O. Miller tahun 1963 diisolasi dalam bentuk kristal dari biji jagung yang belum matang disebut zeatin.  Sitokini alami terjadi dari derivat isopentenyl adenine.
Sitokinin sintetik yang paling umum dimanfaatkan di bidang pertanian seperti BA, kinetin dan PBA.  Kinin menimbulkan kisaran respons yang luas, tetapi kinin bertindak secara sinergis dengan auxin dan juga hormon lain.
 
Etilen
Buah-buahan terutama yang sudah tua melepaskan gas yang disebut etilen. Etilen disintesis oleh tumbuhan dan menyebabkan proses pemasakan yang lebih cepat. Selain etilen yang dihasilkan oleh tumbuhan, terdapat etilen sintetik, yaitu etepon (asam 2-kloroetifosfonat). Etilen sintetik ini sering digunakan para pedagang untuk mempercepat pemasakan buah. Selain memacu pematangan, etilen juga memacu perkecambahan biji, menebalkan batang, mendorong gugurnya daun, dan menghambat pemanjangan batang kecambah. Selain itu, etilen menunda pembungaan, menurunkan dominansi apikal dan inisiasi akar, dan menghambat pemanjangan batang kecambah. Hormon tumbuh yang secara umum berlainan dengan Auxin, Gibberellin, dan Cytokinin. Dalam keadaan normal ethylene akan berbentuk gas dan struktur kimianya sangat sederhana sekali. Di alam ethilene akan berperan apabila terjadi perubahan secara fisiologis pada suatu tanaman. hormon ini akan berperan pada proses pematangan buah dalam fase climacteric. Penelitian terhadap ethylene, pertama kali dilakukan oleh Neljubow (1901) dan Kriedermann (1975), hasilnya menunjukan gas ethylene dapat membuat perubahan pada akar tanaman. Hasil penelitian Zimmerman et al (1931) menunjukan bahwa ethylene dapat mendukung terjadinya abscission pada daun, namun menurut Rodriquez (1932), zat tersebut dapat mendukung proses pembungaan pada tanaman nanas. Penelitian lain telah membuktikan tentang adanya kerja sama antara auxin dan ethylene dalam pembengkakan (swelling) dan perakaran dengan cara mengaplikasikan auxin pada jaringan setelah ethylene berperan.
 
Asam absisat (ABA)
Asam absisat merupakan senyawa inhibitor (penghambat) yang bekerja antagonis (berlawanan) dengan auksin dan giberelin. Asam absisat berperan dalam proses penuaan dan gugurnya daun. Hormone ini berfungsi untuk mempertahankan tumbuhan dari tekanan lingkungan yang buruk, misalnya kekurangan air, dengan cara dormansi. Kekurangan air akan menyebabkan peningkatan kadar hormone asam absisat di sel penutup stomata. Akibatnya, stomata akan tertutup dan transpirasi berkurang sehingga keseimbangan airdapat dijaga.
Hormon Kalin. Dihasilkan pada jaringan meristem. Memacu pertumbuhan organ tubuh tumbuhan Jenisnyaadalah:
·         Fitokalin: memacu pertumbuhan daun;
·         Kaulokalin: memacu pertumbuhan batang;
·         Rhizokalin: memacu pertumbuhan akar;
·         Anthokalin: memacu pertumbuhan bunga dan buah Florigen hormon tumbuhan yang khusus merangsang pembentukan bunga.

Hubungi kami jika ada pertanyaan lebih lanjut via email benihteknologi[at]gmail[dot]com

Dapatkan info terupdate tentang perkembangan perbenihan nasional dan internasional kunjungi
http://www.infobenih.wordpress.com
 
 
 
 

Pengajuan sertifikasi benih

image

Sertifikasi benih

Pengadaan benih unggul bermutu bagi para petani harus ada jaminan dari pihak produsen benih dalam penyediaan benih yang bermutu dan benar. sesuai dengan sifat-sifat varietas unggul yang dikehendaki. Untuk ini perlu adanya sertifikasi benih  melalui  suatu  sistem  atau  mekanisme  pengujian  benih  secara  berkala  untuk  mengarahkan,  mengendalikan,  dan  mengorganisasikan  perbanyakan  dan  produksi  benih.
Dengan demikian “Sertifikasi benih” adalah cara pemberian sertifikat atas cara perbanyakan, produksi dan penyaluran benih sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh Departemen Pertanian  Republik Indonesia. Tujuannya adalah memelihara kemurnian mutu benih dari varietas unggul serta menyediakan secara kontinyu kepada petani.  Sedangkan benih bersertifikat adalah benih yang pada  proses produksinya diterapkan cara dan  persyaratan tertentu sesuai dengan ketentuan sertifikasi benih.
Keuntungan  menggunakan  benih  bersertifika, antara lain  adalah : (1) keturunan benih diketahui, (2) mutu  benih terjamin, (3) kemurnian genetik  diketahui,  (4) penggunaan benih lebih hemat, (5) pertumbuhan benih  seragam, (6) masak dan panen serempak, dan (7) produksi tinggi
           
1.  Sejarah  Sertifikasi  Benih.
            Sertifikasi benih dibawa dari Swedia sekitar tahun 1886 dengan  menyediakan  benih bermutu  dan  telah  menjual  benih  ke  negara  lain.  Selanjutnya di negara tersebut  lahir ; 1) Balai  Penelitian  Seleksi  Tanaman,  2) Organisasi  Penyebaran  Benih,  dan  3) Balai  Pengujian  Benih. Yang  akhirnya  tergabung  dalam  program  sertifikasi  benih.
            Di Indonesia  pada  jaman  pemerintah  Hindia  Belanda  tahun  1908  telah  mulai  ada  perhatian  terhadap  perbenihan  dan  perbaikan  cara-cara  bercocok tanam. Pada  tahun  1912  mulai  dirasakan  pentingnya  organisasi  yang  mengatur  penyebaran  benih.  Usaha-usahanya  diarahkan  kepada  pengadaan benih  yang  diikuti  dengan  pendirian  lumbung-lumbung  benih.  Pada  tahun  1920  lebih  jelas  organisasinya yaitu  adanya  “Kebun-kebun  seleksi  benih”  yang  berfungsi  memperbanyak  benih  unggul  dan  disimpan  dengan  baik  serta  disebarkan  kepada  petani.
            Pada  tahun  1952  Indonesia  menjadi  anggota  FAO  dengan  mulai  melaksanakan  suatu  pola  produksi  dan  penyebaran  benih  yang  lebih  terarah,  yaitu  dengan  membagi  benih  kedalam  4 katagori ;  1) Benih Breeder (BS) 2) Benih dasar (FS), 3)  Benih  Pokok (SS) dan 4) Benih Sebar (ES). Mekanisme dari pola ini belum berjalan  dengan  baik  dan  tidak  berdasar  pada  suatu  legalitas  peraturan  pemerintah.
            Usaha  pemerintah  dalam  membina  penggunaan  benih  unggul  baru  meliputi  segi  produksi  benih  dan  pendistribusiannya.  Tahap  standarisasi  dalam  usaha-usaha  kwalifikasi  benih  belum  ditentukan  sehingga  penyebaran  benih  belum  kontinyu.
            Pada  tahun 1969  mulailah  dirintis  proyek  benih  oleh  Direktorat  Pengembangan Produksi Padi Dirjen Pertanian. Proyek ini bertujuan  menjamin  benih bermutu  secara  kontinyu. Namun  sistem  kualifikasi  benih  secara fungsional  masih  banyak hambatan,  misalnya  kondisi  Balai-Balai  Benih  tidak  memenuhi  syarat  sebagai  Produsen  Benih Pokok.
Dalam rangka peningkatan produksi pertanian  melalui usaha  pembinaan benih, Pemerintah  berdasarkan  Keputusan Presiden  Republik Indonesia No. 72 Tahun 1971 menetapkan dibentuknya Badan Benih Nasional di lingkungan Departemen Pertanian. Badan ini berfungsi membantu Menteri  Pertanian dalam merencanakan dan merumuskan kebijaksanaan di  bidang perbenihan. Salah satu tugas pokoknya adalah membentuk lembaga yang tugasnya memperbanyak dan menyediakan  varietas- varietas  unggul  yang bermutu  tinggi  bagi  para  petani. Verietas-verietas  tersebut berasal dari  program  seleksi Balai Penelitian.     
Salah satu kelengkapan organisasi Badan Benih Nasional yaitu Team Pembinaan, Pengawasan dan Sertifikasi, yang selanjutnya  pelaksanaan  sertifikasi benih  dilaksanakan oleh Dinas Pengawasan dan Sertifikasi Benih.  Berdasarkan SK Menteri Pertanian No, 190/kpts/org/5/1975 tentang susunan organisasi Departemen Pertanian, maka Dinas  Pengawasan dan  Sertifikasi Mutu Benih, namanya berubah menjadi Sub Direktorat  Pembinaan  Mutu Benih yang kemudian dibentuk Unit Pelaksana Teknis yaitu Balai Pengawasan dan Sertifikasi Mutu Benih (BPSB). BPSB ini melaksanakan sebagian tugas teknis Direktorat jenderal Pertanian Tanaman Pangan khususnya menyelenggarakan kegiatan bidang pembinaan mutu  benih, pengujian benih laboratorium  dan  pengawasan pemasaran  benih sudah dilaksanakan BPSB sejak tahun 1971.

2. Faktor  Penunjang  Dan  Pembatas  Keberhasilan  Sertifikasi Benih
2.1  Faktor  Penunjang  Keberhasilan  Sertifikasi  Benih 
1)    Produsen  benih  harus  bertanggungjawab  terhadap  produk  yang  telah dihasilkan  sesuai  dengan  ketentuan  persyaratan  sertifikat  dan  sanggup  mempertahankan  kontinyuitas  penyediaan  benih  serta  peningkatannya..
2)    Pedagang benih  bertanggungjawab  jika  komeditas  yang  dihasilkan  melampoi  batas  waktunya  dan  segera  mengujikan  kembali  ke  laboratorium.
3)    Para  analis  sangat  diharapkan  ketelitian  dan  keseksamaan  dalam  melakukan  pengujian-pengujian  guna  pemberian  sertifikasi  benih. Para  pemulia  benih  sangat  diperlukan  sumbangannya  agar  dapat  memproduksi  benih  yang  genetis  murni  dari  varietas  yang  banyak diperlukan para petani umumnya. Selain itu sangat  diharapkan  untuk  mengadakan  berbagai  penelitian  varietas  baru.
4)    Lembaga Sertifikasi  Benih  bertanggungjawab  atas  berlangsungnya  penangkaran benih penjenis dan dapat  meyakinkan  serta  menjamin  tersedianya  benih  unggul  yang  bermutu  dan  bersertifikat,  serta  dapat  melindungi  para  konsumen  dari  adanya  pemalsuan  benih.
5)    Peran lembaga para penyuluh  pertanian  harus  dapat  menyadarkan  dan meningkatkan  kepercayaan atas  terjaminnya  pengunaan  benih  bersertifikat.
6)    Saluran-saluran  distribusi  seperti  toko  dan  kios  perlu  tersedia  dalam  lokasi  yang  dekat  dengan  para  petani  dan  kesanggupan  pelayanannya  dengan  baik.

2.2  Faktor  Pembatas  Keberhasilan  Sertifikasi  Benih
1)    Pemilikan  Tanah  Yang  Sempit  
  Umumnya  lahan  usahatani  yang dikelola petani  relatif  sempit  (+ 0,3 ha).  Dalam  usahatani  sempit  penggunaan  benih  yang  mutunya   berlainan kurang mempunyai arti yang penting, lain halnya  pengelolaan  lahan  luas.
2)    Fasilitas  Fisik
Dalam pengelolaan benih diperlukan alat-alat  pengering,  pembersih, tempat penyimpanan, alat-alat pengujian yang  memenuhi  syarat.  Namun  bila  dilihat  dari  kondisi  para  penangkar  adanya  fasilitas  tersebut  dirasa  masih  kurang.
3)    Tenaga  Penyuluh  Terlatih  dan  Trampil
Penyuluh  mempuyai  tugas  yang  secara  terus  menerus  harus  dapat  meyakinkan  petani  akan  pentingnya  penggunaan  benih  bersertifikat.  Tenaga  penyuluh  yang  terlatih  dan  terampil  masih  kurang jumlahnya dan belum tersebar ke pelosok-pelosok  pedesaan.
4)    Tanggungjawab  Pelaksanaan  sertifikasi Benih.
Selama  ini  pembinaan  organisasi  perbenihan  dilakukan  melalui  pembinaan  terhadap  produsen  benih  dan  aparat  pengawasan.  Pembinaan  ini  perlu  diintensifkan  terus  dengan  pembinaan terhadap  para  pemulia  dan  kegiatan  penyuluh.

3.  Pelaksanaan  Sertifikasi  Benih
3.1. Kelas Dan Sumber Benih Yang Disertifikasi
      Kelas-kelas  benih  dalam rangka  sertifikasi  ialah benih Penjenis, Benih Dasar, Benih Pokok dan Benih Sebar. Kelas-kelas benih ini harus memenuhi standar yang ditetapkan untuk tiap-tiap jenis dan/atau varietas tanaman. Kelas kelas benih tersebut ditetapkan sebagai berikut :
1.    Benih Penjenis (Breeders Seed) 
Benih penjenis adalah benih yang diproduksi  oleh  dan dibawah pengawasan pemulia tanaman yang bersangkutan atau instansinya dan harus merupakan   sumber untuk perbanyakan benih dasar.
2.    Benih Dasar (Basic Seed = Foundation Seed) 
Benih  dasar adalah keturunan pertama dari  benih  penjenis yang diproduksi di bawah bimbingan  yang  intensif dan pengawasan yang ketat hingga kemurnian varietas dapat dipelihara. Benih ini diproduksi  oleh instansi atau badan yang  ditunjuk  oleh Sub  Direktorat  Pembinaan Mutu  Benih dan harus disertifikasi oleh Balai Pengawasan  Sertifikasi Benih (BPSB) atau Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu
3.    Benih Pokok (Stock Seed)
Benih pokok adalah keturunan dari benih  penjenis atau  benih dasar yang diproduksi dan  dipelihara sedemikian rupa sehingga identitas dan tingkat kemurnian varietas yang ditetapkan dapat dipelihara  dan memenuhi standard mutu yang ditetapkan. Benih pokok  ini  diproduksi oleh instansi  atau  badan  yang ditetapkan oleh Sub Direktorat Pembinaan Mutu Benih (misalnya: kebun-kebun Diperta) dan harus disertifikasi oleh BPSB sebagai benih pokok.
4.    Benih Sebar (Extension Seed)
Benih sebar adalah keturunan dari benih penjenis,  benih dasar atau benih pokok, yang diproduksi dan dipelihara sedemikian rupa sehingga identitas dan tingkat kemurnian varietas dapat dipelihara,  dan  memenuhi  standar mutu benih yang ditetapkan  dan   harus disertifikasi sebagai benih sebar oleh BPSB

            Dalam  suatu program sertifikasi benih, misal  untuk padi  (Oryza sativa L.) maka ahli pemuliaan tanaman  hanya memproduksi benih inti (nucleus seed) lebih kurang 2 Kg. Produksi selanjutnya merupakan produksi benih dasar  lebih kurang  4000 kg yang akan diperbanyak menjadi benih  pokok lebih kurang 120.000 kg. dan kemudian menjadi benih  sebar lebih kurang 3.600.000 kg. Kesemuanya mulai dari benih penjenis sampai produksi benih sebar pada program sertifikasi benih harus berada dalam pengawasan mutu yang distandardi-sasi sesuai dengan peraturan yang berlaku.     
Benih dasar yang biasanya berasal dari suatu  varietas  baru dalam jumlah yang masih sedikit diproduksi  oleh LP3  Bogor  dan kebun-kebun  cabangnya  di  daerah-daerah. Benih  dasar  ini kemudian diteruskan  kepada  kebun-kebun Dinas  Pertanian  Rakyat untuk diperbanyak  menjadi  benih pokok.  Benih pokok akan diperbanyak oleh fihak  Penangkar Benih atau Kebun Benih Desa menjadi benih sebar.  Benih sebar inilah yang nantinya akan langsung  disalurkan kepada petani produsen. Pemerintah telah menetapkan berdirinya  Perusahaan Umum Sang Hyang Seri tahun 1971 di  Suka mandi,  yang  bertugas selain memproduksi  secara  teratur varietas-varietas  unggul padi, jagung, kacang tanah,  dan tanaman lainnya.

3.2.  Prosedur  Produksi  Benih Bersertifikat
            Dalam  memproduksi benih bersertifikat ada  beberapa tahap yang dilaksanakan, yang masing-masing dapat dikemukakan seperti berikut ini (Direktorat Bina Produksi  Tanaman Pangan, 1984).
Kewajiban  utama  produsen  benih  adalah ; 
1). Mengajukan  permohonan  sertifikasi,
2). Melakukan  pengendalian  mutu  internal, 
3). Memberitahu  BPSB  ketika  pemeriksaan  eksternal  (baik  di lapang,  di  alat  pengolahan  dan  gudang  maupun  di laboratorium)  yang  diperlukan, dan
4) Membayar semua biaya yang dibebankan  sehubungan  dengan  jasa  pelayanan  BPSB.
Sehubungan  dengan  hal  tersebut  di atas  BPSB  berkewajiban  untuk  melayani  produsen  benih ketika  diperlukan  pada  waktu-waktu  sesuai  dengan  prosedur  yang  berlaku.

3.2.1 Permohonan Sertifikasi Benih
Setiap orang atau badan hukum yang ingin memproduksi benih bersertifikat harus mengajukan permohonan kepada Dinas Pengawasan dan Sertifikasi Benih atau Cabangnya. Permohonan sertifikasi diajukan oleh produsen benih paling lambat satu bulan sebelum tanam, dengan mengisi formulir yang telah ditetapkan. Permohonan  tersebut  dilampiri dengan : 
(1)  label  benih yang akan ditanam,
(2) peta lapangan, dan
(3) biaya pendaftaran dan pemeriksaan lapang sesuai dengan ketentuan.
Satu formulir  permohonan sertifikasi hanya berlaku untuk  satu areal sertifikasi dari satu varietas dan satu kelas  benih yang akan dihasilkan.
            Persyaratan  melampirkan  label  benih  merupakan  keterangan  yang  menyatakan  sumber,  kualitas,  jumlah  benih,  kelas  benih  dan  varietas.  Benih  sumber  yang  dipersyaratakan  harus  mempunyai  kelas  yang   lebih  tinggi  daripada  kelas  benih  yang  akan  diproduksi.
            Areal  untuk  produksi  benih  bersertifikat  harus  diketahui  sejarah  penggunaan  sebelumnya  dan  harus  memenuhi  persyaratan  antara  lain :  batas-batas  yang  jelas (parit,  galengan  dan  jalan  serta  isolasi  jarak  yang  sesuai.
            Secara  teknis  produksi  benih  bersertifikat  melibatkan  2  komponen utama  dari  perbenihan,  yaitu  Produsen  Benih  dan  BPSB.  Produsen  benih  adalah  pihak  yang  melaksanakan  kegiatan  produksi  benih  sampai  benih  disalurkan  kepada  yang  memerlukan  untuk  bahan  pertanaman  dengan  syarat ;
a.    Memiliki/menguasai tanah dan mampu memelihara dan  mengaturnya  untuk  memproduksi  benih  bersertifikat.
b.    Memiliki  fasilitas  pengolahan  dan  penyimpanan  sendiri  atau  secara kontrak dari  perusahaan  pengolahan/penyimpanan  benih.
c.    Bersedia  mematuhi  petunjuk-petunjuk  dari  BPSB  dan  terikat  pada  peraturan  serta  ketentuan  yang  berlaku.
Produsen  Benih  dapat  berupa  perorangan  atau badan  hukum,  baik berusaha  sendiri  maupun  secara  bekerja sama  atau  secara  kontrak  dengan  produsen  benih  lainnya.
3.2.2 Benih yang Ditanam
            Komponen-komponen  dalam  pelaksanaan  pengendalian  mutu  benih  internal  harus  diperhatikan  oleh  produsen  benih.  Komponen-komponen  tersebut  sebenarnya  bagian  dari  prinsip  genetik  dan  agronomik  yang  meliputi  ;  1) sumber  benih, 2) kondisi  lahan,  3) penanaman,  4) isolasi,  5,  teknik  budidaya,  6) pemeriksaan  lapang  dan  roguing,  7) pemanenan,  8) pengolahan  benih,  9) penyimpanan,  dan  10) pemeriksaan  akhir.
Benih bersertifikat yang akan diproduksi harus berasal dari benih bersertifikat dengan kelas-kelas yang lebih tinggi.  Apabila terpaksa, karena untuk  sesuatu  varietas yang  akan diperbanyak tidak tersedia  Benih  Penjenisnya, maka Benih Dasar dapat diproduksi sebagai keturunan  kedua dari Benih Penjenis dengan persetujuan dari Dinas Pengawasan dan Sertifikasi Benih.

3.2.3 Areal Tanah Untuk Produksi Benih Bersertifikasi
            Areal tanah yang akan digunakan untuk produksi benih bersertifikat harus diketahui sejarah penggunaan  sebelumnya  dan harus memenuhi persyaratan yang ditentukan  serta harus mempunyai batas-batas yang jelas seperti parit,  galengan,  jalan, dan isolasi jarak. Satu areal  sertifikasi hanya boleh ditanami dengan satu kelas benih dan dari satu varietas.
3.2.4 Pemerikasaan Lapangan
            Pemeriksaan  lapangan harus dilakukan oleh  Pengawas Benih yang diberi tugas oleh Dinas Pengawasan dan Sertifikasi Benih. Permintaan pemeriksaan lapangan harus disampaikan oleh produsen dalam waktu seminggu sebelum tanam  pada Dinas Pengawasan dan Sertifikasi Benih. Pemeriksaan lapangan dilakukan pada fase vegetatif, pembungaan, dan waktu panen. Bila pada pemeriksaan pertama dan kedua ternyata  tidak memenuhi standar lapangan, produsen benih  diperkenankan untuk memperbaiki keadaan pertanamannya, dan dapat meminta pemeriksaan lapangan ulangan. Bila pertanaman lapangan  tidak lulus pada pemeriksaan lapangan terakhir,  tidak diadakan pengujian laboratorium.
            Tujuan  pemeriksaan  lapang :  menilai  apakah  pertanaman  produksi  benih  memenuhi  syarata  atau  tidak.
            Selama  periode  penanaman  dilakukan  empat  kali  pemeriksaan  yang  meliputi :
1)    Sebelum  tanam,  untuk  mengetahui  isolasi,  pengolahan  tanah  dan  sistem  pengairan.
2)    Tanaman  berumur  1 tahun,  untuk  mengetahui  apakah  isolasi  sudah  benar,  varietasnya  sesuai,  ada tidaknya varietas  lain atau  gulma.
3)    Periode  berbunga,  dilakukan  pemeriksaan  terperinci  terhadap  campuran  varietas  lain  dan  gulma  dengan   tanaman  pokok  serta  terhadap  serangan  hama  dan  penyakit.
4)    Saat panen, merupakan pemeriksaan  terakhir  untuk  mengetahui  tingkat  kemasakan  benih  dan  adanya  hama  penyakit.
3.2.5 Pemeriksaan Gudang dan Peralatan
            Permintaan pemeriksaan gudang dan peralatan harus disampaikan oleh produsen benih selambat-lambatnya  seminggu sebelum panen. Fasilitas penyimpanan serta peralatan  yang akan  dipakai untuk panen, pengolahan,  pengeringan  harus bersih dan diperiksa oleh pengawas benih sebelum digunakan Pada waktu pemeriksaan dilakukan, maka ditempat pengolahan atau penyimpanan tidak boleh terdapat benih lainnya selain benih yang sedang disertifikasi.
            Maksud  dari  pemeriksaan ini adalah; untuk  mendapatkan  kepastian  bahwa benih  yang  akan  dihasilkan  dapat  terjamin  baik  dalam  kemurnian  genetik  maupun  fisik
3.2.6 Pengawasan Terhadap Benih yang Sedang Diolah dan Di   simpan.
            Pengawasan  ini  dimaksudkan  agar  benih  yang  dihasilkan  dapat  dijamin  kemurniann  genetik  dan  mutu  fisiknya.
Pemeriksaan dilakukan oleh Pengawas Benih pada saat-saat  tertentu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Semua benih yang disimpan dimasukkan kedalam wadah atau  tempat yang  bersih, kering, sirkulasi udara  terjamin. Produsen benih harus mencantumkan identifikasi yang lengkap pada setiap wadah (kelompok benih) seperti jenis /varietas,  nomor kelompok, asal lapangan dan lain-lain. Kelompok benih yang identifikasinya  meragukan atau tidak terlindung dari  kemungkinan pencampuran akan ditolak untuk sertifikasi.

3.2.7 Pengambilan Contoh Benih
            Contoh benih dari tiap kelompok benih yang akan  disertifikasi diambil oleh pengawas benih, setelah ada  permintaan dari penangkar/produsen benih. Benih yang akan disertifikasi  harus  sudah diolah  dan  dimasukkan  kedalam wadah sebelum diambil contohnya untuk pengujian di laboratorium. Cara pengambilannya harus memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Suatu kelompok benih harus diatur  sedemikian rupa sehingga setiap wadah atau  bagiannya dapat diambil contohnya. Pemilik benih harus memberi keterangan yang terperinci tentang asal benih. Apabila diketahui bahwa kelompok benih tidak seragam, maka petugas pengambilan contoh berhak menolak untuk melaksanakan pengambilan contoh. 
            Di dalam pengambilan contoh sejumlah benih yang  kurang lebih sama beratnya akan diambil secara acak dari setiap wadah. Pada benih yang lengket pengambilan contoh be-nih dilakukan dengan tangan, sedangkan untuk benih lainnya digunakan alat pengambil contoh benih. Dari setiap kelompok  benih hanya diambil satu contoh benih resmi,  kecuali dalam hal-hal tertentu, dapat diambil contoh ulangan.         
3.2.8 Pengujian Benih
            Pengujian benih harus dilakukan di laboratorium  Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih. Macam pengujian  ru-tin yang dilakukan di laboratorium benih adalah :
1)  Pengujian Kadar Air
            Penetapan kadar air dilakukan dengan menggunakan 2 ulangan yang pengambilan contoh kerjanya dilakukan  secara    terpisah.   Berat contoh kerja yang ditetapkan tergantung dari metoda yang dipakai dan ukuran wadah. Cara pengambilan contoh kerja dari contoh kiriman adalah dengan jalan mengaduk terlebih  dahulu contoh kiriman,  agar diperoleh contoh kerja yang representatif dan homogen. Waktu yang  diperlukan  untuk pengambilan contoh kerja tidak  boleh  lebih dari 30 detik. Bagi benih yang besar harus dijadikan  butir-butir yang lebih kecil dengan cara  digiling atau ditumbuk,  kecuali  bagi  benih yang kandungan minyaknya sangat tinggi. Sedangkan benih yang kadar airnya tinggi perlu pengeringan  pendahuluan. Setelah selesai melaksanakan beberapa proses tersebut, barulah  menentukan kadar air benih berdasar beberapa metoda destilasi  atau menggunakan alat-alat pengukur  kadar  air    (moisture meter).
2)  Pengujian Kemurnian
            Analisa kemurnian adalah merupakan analisa tunggal dengan menggunakan contoh kerja yang sudah ditetapkan. Apa-   bila hendak melakukan analisa ganda dapat digunakan 2 x   +  contoh kerja yang masing-masing diambil secara terpisah. Cara perhitungannya, setiap komponen yang  terdiri    dari  benih murni, benih tanaman lain, benih gulma  dan   kotoran  ditimbang, dimana berat total seharusnya  sama    dengan  berat awal, tetapi bisa juga kurang  (toleransi    1%).  Setelah itu persentase setiap  komponen  dihitung  terhadap total berat semua komponen (untuk berat contoh  kerja  kurang  25 g) atau terhadap  berat  awal  contoh    kerja (untuk berat contoh kerja lebih besar 25 g).   Hasil pengujian kemurnian ditulis dalam persentase  dengan 2 desimal (2 angka di belakang koma). Jumlah  persentase berat dari komponen harus 100%.
3) Pengujian Daya Berkecambah atau Daya Tumbuh
            Benih yang digunakan untuk pengujian daya berkecambah/ daya  tumbuh diambil dari benih murni dari  jenis  atau    kultivar yang diuji tanpa melihat ukuran atau ujudnya. Untuk keperluan ini dibutuhkan minimum 400 butir, kecuali pada benih campuran apabila komposisi jenisnya  hanya 15% atau kurang, maka dapat digunakan 200 butir.  Setelah itu dilakukan penanaman dengan cara ulangan, untuk  setiap ulangan dapat terdiri dari 100, 50 atau  25  butir,  tergantung  dari jenis  dan  substratnya.  Biji  diletakkan merata sedemikian rupa sehingga akar atau bakal batang yang akan tumbuh bertautan satu sama lin. Untuk tiap jenis/kultivar membutuhkan persyaratan tumbuh atau perlakuan lainnya seperti yang sudah ditetapkan.
            Metode  uji  dengan  substrat  kertas  dapat  dilakukan    dengan cara Uji Di atas Kertas (UDK), Uji Antar  Kertas    (UAK), Uji Kertas Digulung (UKD) beserta variasinya. Sedangkan dengan substrat pasir dapat dilakukan di atas    pasir maupun dalam pasir.
            Cara perhitungannya untuk tiap jenis/kultivar  ditetapkan batas waktu tertentu seperti yang sudah ditetapkan,   dan pada saat itu pengujian dihentikan untuk menghitung  % daya  tumbuh bagi benih yang  bersangkutan. Apabila  menggunakan substrat kertas dilakukan perhitungan pertama, intermidiate dan terakhir. Sedang apabila menggunakan substrat pasir, hanya dilakukan perhitungan satu kali  saja, yaitu perhitungan terakhir. Pada  perhitungan  terakhir bibit normal, bibit abnormal, bibit mati  (busuk),  biji  keras dan dorman  dipisahkan  dan masing-masing dihitung persentasenya terhadap jumlah biji yang diuji. Disamping pengujian-pengujian tersebut,  kadang-kadang dilakukan  pula pengujian khusus yang  dilakukan  kalau   ada permintaan atau dianggap diperlukan. Pengujian khusus  tersebut antara lain: pengujian kekuatan tumbuh, pengujian heterogenitas dan pengujian kesehatan benih,  penetapan  bobot  1000  butir  benih,  pengujian  kebenaran  atau  verifikasi  jenis/kultifar,  pengujian vigor, pengujian viabilitas benih secara biokimia (tetrazolium)
3.2.9 Label dan Segel
            Semua laporan mengenai pemeriksaan lapangan, pemeriksaan gudang dan peralatan untuk panen pengolahan serta penyimpanan,  dan  pengujian benih di  laboratorium,  dibuat dalam bentuk yang ditetapkan dengan cara yang ditentukan. Laporan ini harus selesai dalam waktu satu minggu  setelah selesai pemeriksaan.  Tahap berikutnya produsen benih mengajukan permintaan membeli  label sertifikasi dan segel kepada Balai  Pengawasan dan Sertifikasi Benih.  Pada setiap wadah dari kelompok benih yang disertifikasi akan ditempelkan satu label. Label ini ditetapkan menurut kelas benih yang dinyatakan bersertifikat dalam jumlah  yang  cukup.  Bila masing-masing  wadah  benih  sudah diberi label dan disegel, kelompok benih tersebut dinyatakan bersertifikat.
Tanda dan warna label untuk benih  ber-sertifikat adalah sebagai berikut : (Titik Sudarti Sudikno  1977, Lita Sutopo, 1985) :
1. Pada tiap-tiap label tercantum kata-kata BENIH BERSERTIFIKAT  dalam huruf besar, yang kemudian diikuti  dengan    nama kelas benih. Disamping itu juga terdapat keterangan mengenai :
·         nama dan alamat produsen benih,
·         jenis/varietas  tanaman, 
·         nomor kelompok benih, 
·         berat  bersih,   
·         tanggal selesai pengujian,
·         kadar air,
·         daya tumbuh,  dan    lain-lain.
2. Warna label untuk masing-masing kelas benih tidak sama,    antara lain :
·         benih   PENJENIS  warna  putih,
·         benih   DASAR   warna  ungu,   
·         benih   POKOK   warna  ungu,
·         benih   SEBAR   warna  biru, dan
·         benih   BINA    warna   jambon.
3.2.10.  Pengawasan  Pasca  Sertifikasi
            Pengawasan  tidak  hanya  dilapangan,  tetapi  juga  melakukan  pengawasan  terhadap  benih  yang  dipasarkan  dengan  maksud   untuk  menilai  apakah  benih  bersertifikat  yang  dipasarkan  masih  layak,  juga  untuk  melihat  batas  kadaluarsa  sertifikat.
            Apabila  dalam  pengawasan  pasca  sertifikat  benih  diragukan  maka  akan  diambil  contoh  benih  untuk  diuji  lagi  di  laboratorium.  Jika  hasil  pengujian  masih  memenuhi  syarat,  maka  benih  tersebut  masih  boleh  dipasarkan  atau  jika  kurang  baik  tetapi  memenuhi  persyaratan  minimal  maka  masa  berlakunya  sertifikat  dapat  diperpendek.  Sebaliknya  jika  hasil  pengujian  di  laboratorium  tidak  memenuhi  persyaratan  minimal  maka  benih  tersebut  harus  ditarik  dari  peredaran  meskipun  batas  kadaluarsa  sertifikat  belum  berkhir.
Landasan Hukum dan Pedoman dalam Sertifikasi Benih
Undang-undang Republik Indonesia No. 12 Tahun 1992, tentang Sistem Budidaya Tanaman;
Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 22 Tahun 1971 tentang Pembinaan, Pengawasan Pemasaran dan Sertifikasi Benih;
Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 460/Kpts/Org/XI/1971, jo Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 22 Tahun 1971;
Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pertanian dan Tanaman Pangan Nomor SK.I.HK.050.84.68, tentang Prosedur Sertifkasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, dan SK No. I.HK.50.84.70, tentang Pedoman Khusus Sertifikasi Benih;
Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 803/Kpts/01.210/7/97, tentang Sertifikasi dan Pengawasan Mutu Benih Bina;
Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 1017/Kpts/TP.120/12/98, tentang Izin Produksi Benih Bina, Izin Pemasukan Benih dan Pengeluaran Benih Bina;
Surat Keputusan Dirjen  Tanaman Pangan dan Hortikultura Nomor : I.HK.050.98-57, tentang Pedoman tata Cara dan Ketentuan Umum Sertifikasi Benih Bina;
Surat Keputusan Dirjen Tanaman Pangan dan Hortikultura Nomor : I.HK.050.98-58, tentang Pedoman Khusus Sertifikasi untuk Perbanyakan Benih Tanaman Buah secara Vegetatif;
Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 39/Permentan/OT.140/8/06, tentang Produksi Benih, Sertifikasi dan Peredaran Benih Bina;
Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 28/Permentan/SR.120/3/07, tentang Produksi Benih, Kedelai;
Diskripsi Jenis/Varietas yang diberikan oleh pemulia atau instansinya.

Syarat – syarat sertifikasi Benih
1. Permohonan/Pendaftaran Sertifikasi
Permohonan sertifikasi dapat dilakukan oleh perorangan atau badan hukum yang bermaksud memproduksi benih bersertifikat, ditujukan kepada Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih. Permohonan sertifikasi hanya dapat dilakukan oleh penangkar benih yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan
2. Sumber Benih
Benih yang akan ditanam untuk menghasilkan benih bersertifikat harus berasal dari kelas benih yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya untuk menghasilkan benih sebar harus ditanam benih pokok, oleh sebab itu benih yang akan ditanam harus bersertifikat/berlabel.
3. Varietas
Varietas benih yang dapat disertifikasi, yaitu varietas benih yang telah ditetapkan sebagai varietas unggulan dan telah dilepas oleh Menteri Pertanian serta dapat disertifikasi.
4. Areal Sertifikasi
Tanah/Lahan yang akan dipergunakan untuk memproduksi benih bersertifikat harus memenuhi persyaratan sesuai dengan komoditi yang akan diproduksi, karena tiap-tiap komoditi memerlukan persyaratan sejarah lapang yang berbeda.
Adapun persyaratan areal tersebut diantaranya :
Letak dan batas areal jelas
Satu blok untuk satu varietas dan satu kelas benih
Sejarah lapangan : Bera, Bekas tanaman lain, Bekas varietas yang sama dengan kelas benih yang lebih tinggi, atau bekas varietas lain tetapi mudah dibedakan.
Luas areal diarahkan minimal 5 Ha (BR) mengelompok.
Syarat areal bekas tanaman padi yang dapat dijadikan areal sertifikasi (dalam Tabel)
5.    Isolasi
Isolasi dalam sertifikasi terbagi dalam 2 bagian yaitu :
1. Isolasi Jarak
Isolasi jarak antara areal penangkaran dengan areal bukan penangkaran minimal 3 meter, ini bertujuan untuk menjaga agar varietas dalam areal penangkaran tidak tercampur oleh varietas lain dari areal sekitarnya.
2. Isolasi Waktu
Isolasi waktu kurang lebih 30 hari (selisih berbunga) , ini bertujuan agar tidak terjadi penyerbukan silang pada saat berbunga antara varietas pengakaran dengan varietas disekitarnya.
6. Pemeriksaan Lapangan
Guna menilai apakah hasil benih dari pertanaman tersebut memenuhi standar benih bersertifikat, maka diadakan pemeriksan lapangan oleh pengawas benih.
Pemeriksaan lapangan dilakukan secara bertahap yang meliputi Pemeriksaan Lapangan Pendahuluan (paling lambat saat tanam), Pemeriksaan Lapangan Ke I (fase Vegetatif), ke II (fase generatif), dan Pemeriksaan Lpang Ke III (menjelang panen).
7. Peralatan Panen dan Perosesing Benih
Peralatan/perlengakapan yang digunakan untuk panen dan prosesing harus bersih terutama dari jenis atau varietas yang tidak sama dengan yang akan diproses/dipanen. UJ\ntuk menjamin kebersihan ini harus diadakan pemeriksaan sebelum penggunaannya, misalnya ; Combine, Prosessing Plant, ataupun wadah benih lainnya.
8. Uji Laboratorium
Untuk mengetahui mutu benih yang dihasilkan setelah dinyatakan lulus lapangan maka perlu diuji mutunya di laboratorium oleh analis benih, yang meliputi uji kadar air, kemurnian, kotoran benih, campuran varietas lain, benih tanaman lain, dan daya tumbuh.
9.      Label dan Segel
Dalam ketentuan yang sudah ditetapkan juga tercantum bahwa proses sertifikasi dinyatakan selesai apabila benih telah dipasang label dan disegel. Label yang digunakan pemasangannya diawasi oleh petugas Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih seta warna label disesuaikan  dengan kelas benih yang dihasilkan.
Tugas dan Fungsi sertifikasi Benih
1) Mengadakan pemeriksaan lapang;
2) Mengadakan pengawasan panen dan pengolahan benih;
3) Mengadakan pemeriksaan alat panen dan alat pengolahan benih;
4) Mengadakan Pengambilan contoh benih untuk diuji di laboratorium;
5) Menetapkan lulus atau tidak lulus suatu benih dalam rangka sertifikasi;
6) Mengadakan pengawasan pemasangan label dan segel sertifikasi;
7)  Mengadakan pengumpulan dan penilaian data pelaksanaan sertifikasi untuk penyempurnaan penerapan system sertifikasi benih;
8) Melaksanakan pencatatan dan penyimpanan data yang berhubungan dengan kegiatan sertifikasi.
SUMBER BENIH
Dalam sektor perbenihan perkebunan dikenal perbanyakan tanaman melalui kebun- kebun berikut :
Kebun Induk
Kebun induk merupakan kebun yang menghasilkan benih sumber, untuk penanaman kebun produksi ( perbanyakan generatif) sehingga kelas benih yang dihasilkan adalah benih sebar. Kebun induk ini dapat berupa kebun dengan 1 varietas/klon untuk tanaman menyerbuk sendiri dan lebih dari 2 varietas/klon untuk tanaman menyerbuk silang (hibrida).Standart mutu yang harus dipenuhi oleh kebun induk ini adalah bebas dari campuran varietas yang tidak dikehendaki, tingkat serangan hama dan penyakit dibawah ambang yang ditentukan, sanitasi kebun yang baik dan tata administrasi kebun yang tertib.
Kebun Entres
Kebun ini  akan menghasilkan entres yang akan digunakan sebagai bahan tanam untuk perbanyakan vegetative. Standart mutu yang harus dipenuhi kebun ini adalah tingkat pemeliharaan tanaman yang terjaga, sanitasi kebun, baku teknis budidaya dan tata administrasi kebun yang  baik.
Kebun Penangkaran
Kebun penangkaran ini merupakan kebun yang ditanam dengan bahan tanam  dan akan menghasilkan benih dalam bentuk biji untuk pertanaman selanjutnya. Dalam kebun ini dikenal ada 3 (tiga) kelas kebun benih yaitu kebun benih dasar, kebun benih pokok dan kebun benih sebar. Sesuai dengan jenjang kelasnya kebun benih dasar menghasilkan benih dasar  yang akan ditanam ke kebun benih pokok, kemudian kebun benih pokok akan menghasilkan benih pokok yang akan ditanam ke kebun benih sebar, dan kebun benih sebar akan menghasilkan benih sebar yang akan ditanam ke kebun produksi. Khusus untuk tanaman  tebu bahan tanam kebun penangkarannya berupa bagal dan jenjang kelas kebunnya adalah kebun Bibit Nenek (KBN),Kebun Bibit Induk (KBI) dan Kebun Bibit Datar ( KBD).
Kebun Pembibitan
Kebun Pembibitan ini merupakan kebun yang akan menghasilkan bibit baik yang berasal dari biji (perbanyakan generative) maupun stek/sambung ( perbanyakan vegetatif). Standart mutu yang harus  diperhatikan dalam usaha pembibitan ini adalah keragaan fisik tanaman tingkat pemeliharaan tanaman yang harus terjaga, sanitasi kebun dan tata administrasi yang baik.
Kebun Perbanyakan
Kebun perbanyakan ini digunakan untuk perbanyakan tanaman melalui vegetative.
Pohon Induk
Pohon induk adalah pohon yang terpilih yang benihnya akan digunakan sebagai bahan tanam/ perbanyakan yang akan memiliki spesifikasi unggul.
Blok Penghasil Tinggi (BPT)
BPT adalah suatu kumpulan blok tanaman yang sudah diketahui tingkat produktifitasnya sehingga diharapkan benih yang dihasilkan akan memiliki produktifitas yang tinggi.
Kultur Jaringan
Kultur jaringan adalah upaya perbanyakan tanaman melalui jaringan hidup dari tanaman tetua secara mikrobiologi.

Sertifikasi yang dilakukan terhadap sumber benih tersebut diatas dilakukan dengan pemeriksaan lapangan yang selalu memperhatikan :
Asal usul tetua
Sejarah lahan
Tata tanam kebun
Agroklimat kebun
Taksasi produksi
Sanitasi kebun
Serangan hama dan penyakit

Sumber Benih Tanaman Kehutanan

image

Sumber benih merupakan suatu tempat dimana koleksi benih dilakukan. Perbedaan potensi genetik yang dimiliki diantara sumber benih yang berbeda, seringkali sangat besar dan hal ini akan berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan dan kualitas tegakan yang dihasilkan dalam program pembangunan hutan tanaman. Kegagalan dalam pembangunan HTI yang disebabkan karena keslahan dalam penggunaan sumber benih, besar kemungkinan karena keterbatasan informasi dan pengetahuan terhadap kualitas sumber benih yang tersedia dan diinginkan oleh para pengguna. Kualitas sumber benih tersebut juga akan berpengaruh terhadap harga benih sehingga menjadi lebih mahal. Namun demikian, harga benih pada umumnya tidak akan melebihi 5 % dari biaya total pembuatan tanaman, akan tetapi akan menghasilkan tegakana dengan peningkatan yang jauh lebih besar (Leksono, 2004). Untuk menghindari timbulnya kerugian yang tidak diinginkan dikemudian hari, perlu diketahui sumber benih yang tersedia dan sesuai dengan tapak dimana jenis tanaman tersebut akan dikembangkan. Pengetahuan mengenai sumber benih tersebut juga akan bermanfaat terhdap persiapan dan strategi yang harus dilakukan sebelum diperoleh suber benih yang diinginkan. Dalam Anonim (2004) disebutkan beberapa klasifikasi sumber benih yang seharusnya dijadikan sebagai pedoman dalam pembangunan hutan tanaman, yaitu :

1. Kebun Benih Teridentifikasi
Tegakan benih teridentifikasi adalah suatu tegakan alam atau tanaman dengan kualitas rata-rata yang digunakan untuk menghasilkan benih dan lokasinya dapat teridantifikasi dengan tapat. Tegakan ini dibangun dengan tidan direncanakan sebagai sumber benih. Asal-usul benihnya biasanya tidak diketahui. Tegakan yang diidentifikasi umumya tegakan yang sudah tua, maka penjarangan pada tegakan ini hanya seperlunya dengan intensitas yang rendah.

2. Kebun Benih Terseleksi
Tegakan benih terseleksi adalah tegakan alam atau tanaman, dimana pohon-pohonnya memiliki fenotipe di atas rata-rata untuk karakter yang penting seperti batang lurus, tidak cacat dan percabangan ringan. Tegakan ini mirip dengan tegakan benih teridentifikasi. Perbedaan utama adalah fenotipe tegakan yang lebih baik (di atas rata-rata).

3. Areal Produksi Benih
Suatu tegakan yang dipilih dan direkomendasikan untuk memproduksi bahan reproduktif berdasarkan kriteria fenotipe. Tegakan terpilih karena sebagian besar pohon-pohonnya memiliki karakter dengan fenotipe unggul seperti pertumbuhannya cepat, kualitas batang baik, tahan terhadap penyakit, sedangkan tingkat pengendalian genetik dari suatu karakter dan diferensiasi genetik terhadap populasi lain pada umumnya tidak diketahui. Faktor lain yang dijadikan pertimbangan adalah ukuran populasi, kerapatan awal dari populasi, jaalur isolasi sekeliling populasi, aksesibilitas dan kemungkinan untuk melakukan perlindungan hutan.

Kegiatan penjarangan merupakan teknik silvikuktur yang sangat penting dilakukandalam suatu APB terhadap pohon-pohon pesaing dari jenis lain, pohon jenis target yang memiliki karakter inferior. Penjarangan disini berperan sebagai seleksi massa negatif, yang bertujuan untuk merubah struktur genetik populasi awal melalui seleksi massa dan mempengaruhi struktur genetik dari benih yang dihasilkan melalui perbaikan aliran serbuk sari. (Finkeldey, 2005)

4. Tegakan Benih Provenansi
Tegakan benih provenans merupakan keturunan campuran dari banyak pohon induk dari suatu populasi tunggal. Dalam pembangunan tegakan ini tidak memerlukan rancangan percobaan sehingga berbeda dengan uji provenans. Tegakan benih provenans harus diisolasi dengan tegakan lainnya agar tidak terjadi persilangan. Tujuan utama pembangunan tegakan benih provenans adalah untuk konservasi genetik secara ex-situ. Tegakan benih provenans dari provenans unggul yang sudah menghasilkan buah dapat dimanfaatkan sebagai sumber benih untuk materi pembangunan hutan tanaman.

5. Kebun Benih Semai
Kebun benih semai dibangun untuk membentuk suatu populasi yang bertujuan untuk menghasilkan benih unggul. Pembangunan kebun benih semai tidak terpisah dari kegiatan uji lapang, selalu dikombinasikan dengan uji keturunan dari pohon induk tunggal. Kombinasi dari tujuan yang berbeda tersebut dikenal dengan istilah kebun benih semai uji keturunan. Tanaman uji keturunsn dikonversi menjadi suatu kebun benih setelah dilakukan satu atau beberapa kali penjarangan selektif. Benih secara langsung diunduh dari kebun benih untuk membangun hutan tanaman komersial.

Rancangan dari uji keturunan dapat dimodifikasi jika direncanakan untuk dikonversi menjadi kebun benih semai. Khususnya dalam hal persilangan antar pohon yang mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat harus dihindari dengan memisahkan secara spasial selama pengujian berlangsung. Seleksi antar famili tidak perlu intensif dalam hubungannya dengan jumlah famili yang cukup untuk dipertahankan untuk mencegah terjadinya silang dalam yang kuat. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah isolasi tanaman uji keturunan dari populasi sekitarnya dengan mengatur jarak yang cukup untuk mencegah aliran serbuk sari dari luar (Finkeldey, 2005).

Hubungi kami jika ada pertanyaan lebih lanjut via email benihteknologi[at]gmail[dot]com

Dapatkan info terupdate tentang perkembangan perbenihan nasional dan internasional kunjungi
http://www.infobenih.wordpress.com

Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Viabilitas Benih

image

Viabilitas benih adalah kemampuan benih untuk tumbuh normal pada kondisi yang optimal. Bila kita menanam benih dengan memberikan semua faktor yang dibutuhkan untuk berkecambah, tetapi benih itu tidak berkecambah, mungkin disebabkan benih dorman atau benih kehilangan viabilitasnya. Dormansi dapat dipatahkan dengan memberikan suatu perlakuan pada benih, sehingga benih mampu berkecambah, Namun benih yang kehilangan viabilitas sifatnya irreversible, tidak bisa berubah menjadi viabel kembali. Jadi benih yang viabel adalah benih yang mampu berkecambah pada kondisi yang memungkinkan tanpa perlakuan pematahan dormasin apapun.

     Viabilitas benih menjadi fokus dalam ilmu dan teknologi benih. Dalam proses produksi benih, viabilitas benih diupayakan mulai dari lapang produksi hingga di pemasaran. Benih diperlakukan berbeda dengan biji karen benih harus dipertahankan viabilitasnya jangan sampai menurun selama masa penyimpanan.

Faktor-faktor yang memengaruhi viabilitas benih pada saat benih diproduksi dilapangan, yaitu :
1. Mutu sumber benihnya
2. Ketersediaan air, air merupakan kebutuhan primer bagi tanaman induk untuk membentuk benih
3. Ketersediaan hara, NPK dan hara mikro lainnya yang berimbang diperlukan dalam jumlah yang cukup untuk membentuk karbohidrat, protein, lipid dan asam nukleat penyusun sel-sel benih yang baru dibentuk
4. Lahan produksi benih bersih dari tanaman pengganggu serta organisme lain yang termasuk organisme mikro atau makro, fungi, bakteri, virus, serangga dan nematoda dapat menginfestasi atau menginfeksi ke dalam jaringan benih sebagai organisme terbawa benih
5. Suhu yang optimum dilapang
6. Cahaya yang cukup

     Faktor lingkungan yang mendukung akan memfasilitasi terjadinya penyerbukan, fertilisasi serta perkembangan benih berjalan normal. Benih dari beberapa tanaman dapat dideteksi viabilitasnya (% perkecambahannya) beberapa saat setelah fertilisasi, semakin tua umur benih (masak didalam buah), persentase perkecambahannya meningkat mencapai maksimum hingga titik masak fisiologis.

     Peningkatan persentae perkecambahan (daya kecambah) disertai peningkatan berat kering benih dan penurunan kadar air benih. Masak fisiologis benih adalah suatu titik (moment) dalam periode perkembangan benih dengan ciri : vigor benih maksimum, berat kering benih maksimum, kadar air benih rendah. Benih seharusnya dipanen setelah mencapai masak fisiologis.

     Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menangani benih setelah panen agar viabilitas benih tidak cepat turun ialah :
Menurunkan dan mempertahankan kadar air benih tetap rendah (benih ortodoks)
Memisahkan kotoran benih karena dapat mempercepat penurunan viabilitas benih didalam penyimpanan
Kemasan benih harus kedap udara
Kondisi penyimpanan yang dingin kering dan bersih
     Viabilitas bisa dideteksi melalui pengamatan dan pengujian secarafisik, fisiologi, biokimiawi, anatomis, sitologi dan matematik. Indikasi benih dengan viabilitas tinggi adalah :
1. Secara fisik benih bersih, seragam dalam ukuran dan bentuk
2. Secara fisiologi, persentase perkecambahan tinggi, berat kering kecambah normal tinggi, vigor kekuatan tumbuh dan vigor daya simpan tinggi, kadar air tetap rendah
3. Secara anatomi, embrio berkembang membentuk struktur kecambah normal
4. Secara biokimiawi, aktivitas respirasi dan aktivitas enzim hidrolase tinggi
5. Secara sitologi, organel sel normal, kromosom tidak mengalami aberasi
6. Secara matematik, nilai tolak ukur viabilitas benih pada MPV II dan III tidak menurun.

Hubungi kami jika ada pertanyaan lebih lanjut via email benihteknologi[at]gmail[dot]com

Dapatkan info terupdate tentang perkembangan perbenihan nasional dan internasional kunjungi
http://www.infobenih.wordpress.com