Filosofi dari Keajaiban Benih

image

Kita  tentu tahu apa itu benih. Kehidupan beragam tumbuhan bermula dari benda mungil mirip kayu ini. Dengan berpikir lebih dalam tentang benih, Kita akan menyaksikan sebuah keajaiban. Informasi mengenai warna, rancangan, bau, dan semua sifat lain dari tumbuhan, tersimpan di dalam benih kecil ini. Setiap benih adalah bank data menakjubkan yang berisi seluruh informasi yang dapat diketahui tentang sebuah tumbuhan. Manusia menggunakan komputer untuk menyimpan informasi. Bagian khusus dari komputer yang disebut hard disk dirancang untuk menyimpan informasi. Piranti berteknologi tinggi ini sangatlah terbelakang jika dibandingkan dengan sebutir benih mungil. Ini sudah cukup menjadi bukti karya hebat Allah SWT yang tiada tara dalam penciptaan.  Setiap benih diliputi oleh ilmu Allah; benih tumbuh dalam pengetahuan-Nya menjadi sebuah tumbuhan. 

Sebutir benih tak lebih dari satu bagian kecil dari sebuah tumbuhan. Inilah benda mungil yang tak seorang pun mempedulikannya. Namun, siapa sangka jikalau benih adalah sebutir benda mungil merupakan bank data yang berisi jutaan halaman informasi penting bagi keberlangsungan kehidupan. 

Benih berisi informasi tentang:
-setiap cabang dan daun tumbuhan,
-jumlah dan bentuk dedaunannya,
-warna dan ketebalan kulit luarnya,
– jumlah rambut rambut akar yang lembut dan halus yang berfungsi menyerap unsur hara dan air dari tanah
-jumlah dan ukuran pembuluh yang mengangkut air dan makanan;
-tinggi tumbuhan,
-Buah yang dihasilkan seperti apa rasa, bau, bentuk dan warnanya.
-dan seluruh informasi  detail lainnya yang dapat diketahui tentang suatu tumbuhan.

Warna putih bunga melati, pembuluh daun, banyaknya daun, penampakan dan kelembutannya yang bagaikan beludru, serta percampuran zat-zat yang memberi bunga melati keharumannya, semua adalah bagian dari informasi ini. Informasi semacam inilah yang membuat daging kelapa muncul dari kantung serabut yang dipenuhi air manis yang tersimpan pada cangkang yang sangat keras namun tidak sulit memasukan air yang manis tersebut didalamnya. 

Dari informasi tersebut, beserta seluruh perangkat yang dimilikinya, sebutir benih mungil mampu memanfaatkan sinar matahari, dan air serta mineral dalam tanah. Seiring dengan waktu, benih akan tumbuh jutaan kali lebih besar, dan akan menjadi keajaiban terbesar dan terindah  untuk disaksikan manusia. Benih akan menjadi sebuah tumbuhan, bahkan sebatang pohon besar kokoh yang menjulang tinggi.

Menurut Prof.Sjamsoe’oed Sadjad bapak benih Indonesia  ada 3 falsafah benih :

“Benih itu tanaman mini”
Benih itu merupakan tanaman utuh, dibalik wujudnya yang mini tersimpan informasi genetik sebagai suatu potensi.  Sebutir benih adalah bakal kehidupan, maka benih harus diperlakukan dengan baik  sesuai dengan sifat-sifatnya mulai saat produksi, processing, penyimpanan,dan  distribusi

“Benih itu kecil tapi indah”
Jadi kita harus berpandangan bahwa kehidupan ini sekecil apapun harus dihayati dan dikagumi. Dan hidup ini harus diisi dengan disiplin tinggi sehingga memberikan manfaat untuk masa depan,
“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan, dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?

“Benih itu hasil hari ini, janji esok hari”
Benih yang dihasilkan harus memiliki kemampuan untuk menjanjikan yang baik dimasa yang akan datang.  Benih itu harus mengandung optimisme, karena apa yang dihasilkan hari ini adalah janji untuk esok hari. Benih harus memberikan hasil yang baik bagi petani yang menanamnya, sehingga inovasi dan kreativitas dalam menghasilkan benih bermutu sangat dibutuhkan, agar benih yang diproduksi mampu memberikan manfaat kepada pengguna benih.
 

Cara Mudah Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif

Perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara vegetatif dan generatif. Perbanyakan tanaman dengan cara generatif ini hasilnya kurang memuaskan karena tanaman yang tumbuh kurang seragam akibatnya mempengaruhi pada hasil produksi. Oleh karena itu banyak orang menggunakan perbanyakan tanaman secara vegetatif agar memperoleh tanaman yang umur, jenis, dan sifatnya sama dengan induknya.
Perbanyakan  secara vegetatif merupakan cara perkembangbiakan tanpa melalui proses peleburan dua gamet, artinya satu induk tumbuhan dapat memperbanyak diri menghasilkan keturunan yang memiliki sifat identik dengan induknya. Perkembangbiakan secara vegetatif dapat terjadi secara alami atau buatan (artifisial). Ada banyak teknik perbanyakan yang dapat dilakukan untuk menghasilkan tanaman sesuai dengan yang diinginkan. Saat ini perbanyakan tanaman secara vegetatif banyak dilakukan. Baik itu melalui grafting, cangkok maupun budding. Cara-cara ini banyak diterapkan untuk menghasilkan tanaman yang lebih baik dari kualitas induknya.
 
 
Pengertian Perbanyakan/Perkembangbiakan  Tanaman Secara Vegetatif
Perbanyakan secara aseksual atau vegetatif adalah proses perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian-bagian tertentu dari tanaman seperti, daun, batang, ranting, pucuk, umbi dan akar untuk menghasilkan tanaman baru yang sama dengan induknya.
Perbanyakan secara vegetatif adalah perbanyakan tanaman menggunakan bagian – bagian vegetatif tanaman seperti akar, batang dan daun. Bahan tanaman yang berasal dari bagian vegetatif disebut bibit. Baik perbanyakan secara vegetatif ( benih ) maupun perbanyakan secara vegetatif ( bibit ), kedua – duanya digunakan petani karena masing – masing mempunyai kelebihan.
Selain itu setiap jenis tanaman mempunyai sifat spesifik dalam kaitanyan dengan bahan tanaman ini. Tanaman – tanaman seperti : padi, jagung, kedelai, kacang tanah, gamdum, kelapa sulit diperbanyak secara vegetatif kecuali dengan menggunakan teknik kultur jaringan. Sedangkan tanaman rambutan, apel, kopi, kakao,tebu, ubikayu, ubijalar, dan lainya lebih baik diperbanyak secara vegetatif.
 
Siklus Hidup Perbanyakan/Perkembangbiakan  Tanaman Secara  Aseksual Atau Vegetatif
  Pada perbanyakan secara aseksual atau vegetatif genotip dari tanaman induk diwarisi secara sempurna. Bagian – bagian tanaman pada fase siklus seksual maupun dapat digunakan sebagai bahan tanaman awal. Bahan yang dipilih untuk perbanyakan karena sifat vegetatifnya dan diambil sebelum mencapai fase dewasa akan tetapi menunjukan sifat juvenilnya. Bahan tanaman yang dipilih karena sifat bunga dan buahnya tidak lagi menunjukan sifat juvenilnya ataupun transisinya dan tetap secara biologis dewasa.
Dengan demikian perlu dikatahui fase vegetatif dan fase pembungaan. Fase vegetatif adalah fase pertumbuhan tanaman dengan perpanjangan akar dan batang, peningkatan volume tanaman dan perluasan daun. Pada fase pembungaan perpanjangan batang berakhir dan beberapa titik tumbuh berubah menjadi kuncup dan akhirnya membentuk buah dan biji.
  Perbanyakan secara vegetatif mencakup beberapa cara antaralain : stek ( batang, akar dan daun ) okulasi dan penyambungan tidak seperti perbanyakan secara generatif yang dapat di tanam langsung dilapangan, kecuali untuk benih yang berukuran kecil, untuk perbanyakan secara vegetatif biasanya perlu disemaikan dulu sebelum ditanam dilapangan.
Persemaian, diperlukan dengan maksud untuk :
Memudahkan pemeliharaan tanaman, misalnya penyiraman yang harus dilakukan pagi dan sore
Menyediakan media tanam yang sangat bagus, misalnya permukaan tanah halus dan bila perlu dicampur pasir
Mengurangi biaya dan tenaga kerja, misalnya bila harus menggunakan naungan daripada membuat naungan tersebar diseluruh lahan lebih murah membuat naungan dibedengan persemaian
Memeberi kesempatan menyeleksi tanaman yang baik untuk dipindah dilapangan sehingga akan mengurangi persentase sulaman, dan
Pada jenis – jenis tanaman tertentu dengan transplanting ( pindah tanam ) memungkinkan diperoleh pertumbuhan tanaman dan diperoleh pertumbuhan tanaman dan hasil panen yang lebih tinggi.
 
Jenis Perbanyakan/Perkembangbiakan Secara Vegetatif
Perbanyakan/Perkembangbiakan secara vegetatif dibagi menjadi dua yaitu perkembangbiakan vegetatif alami dan perkembangbiakan vegetatif buatan. Perkembangbiakan vegetatif yang terjadi dengan sendirinya tanpa bantuan manusia dinamakan vegetatif alami. Sebaliknya, perkembangbiakan vegetatif yang melibatkan bantuan manusia disebut vegetatif buatan.
 
Perkembangbiakan secara vegetatif alami
Perkembangbiakan vegetatif alami dimulai dari tumbuhnya tunas pada bagian tumbuhan. Tunas selanjutnya akan menjadi tanaman baru. Pada umumnya, tunas tumbuh pada ruas batang, ketiak daun, ujung akar, dan tepi daun. Tunas yang tumbuh pada ujung akar atau tepi daun disebut tunas adventif Jika tunas tumbuh dekat induknya dinamakan rumpun, seperti rumpun bambu dan rumpun pisang.
Adapun jenis-jenis perkembangbiakan secara vegetatif alami adalah :
Akar tinggal
Akar tinggal (rizoma) adalah batang yang tumbuh menjalar dalam tanah atau disebut juga akar tinggal, akar rimpang, atau akar tongkat. Tanaman yang berkembang biak dengan akar tinggal adalah lengkuas, jahe, alang-alang, kunyit, dan temulawak dan lain-lain.
 
Ciri-ciri akar tinggal:
Mirip akar tetapi berbuku-buku dan pada ujungnya terdapat kuncup;
pada setiap buku terdapat daun yang berubah menjadi sisik;
pada setiap ketiak sisik terdapat tunas.
 
Adapun contoh tanamannya adalah :
Umbi lapis
Bagian tanaman yang membengkak dalam tanah karena menyimpan cadangan makanan disebut umbi. Umbi lapis merupakan umbi yang berlapis-lapis dan tumbuh tunas di tengahnya. Umbi lapis baru yang berasal dari ketiak terluar akan tumbuh membentuk tunas. Pada umbi lapis, tunas tumbuh di antara daun dan cakram. Contoh tanaman yang berkembang biak dengan umbi lapis di antaranya adalah bawang, bunga bakung, bungan tulip, dan lain-lain.
Umbi akar
Umbi akar merupakan bagian akar yang membesar karena berfungsi sebagai tempat cadangan makanan. Umbi akar dapat tidak mempunyai tunas dan tidak berbuku-buku. Tanaman yang berkembang biak dengan umbi akar, misalnya wortel dan dahlia.
Umbi batang
Umbi batang adalah batang yang tumbuh membengkak dalam tanah. Bagian ini sesungguhnya merupakan cadangan makanan yang disimpan pada bagian batang. Jika umbi ini ditanam, tunas dapat tumbuh dan menjadi tanaman baru. Contohnya adalah kentang dan ubi jalar.
Geragih (stolon)
Geragih adalah batang yang tumbuh dan menjalar di permukaan tanah. Geragih tersusun atas ruas-ruas. Setiap ruas yang menempel pada tanah akan membentuk akar dan tumbuh tunas baru. Tanaman baru akan tumbuh pada ruas-ruasnya dan tidak bergantung pada induknya. Jenis tanaman yang berkembang biak dengan geragih di antaranya adalah stroberi, pegagan atau antanan, dan rumput teki.
Tunas adventif
Tunas adventif adalah tunas yang tumbuh di luar bagian batang. Tunas ini tumbuh pada tepi daun, seperti cocor bebek. Selain pada tepi daun, tunas ini dapat tumbuh pada akar, seperti suskun dan kesemek.
 
Spora
Spora terdapat pada tumbuhan paku, lumut, dan jamur. Spora terdapat di dalam kotak spora yang terletak di tepi daun tumbuhan paku. Contoh tumbuhan paku yang sering kita lihat untuk tanaman hias adalah suplir. Pada tepi daun suplir terdapat butiran yang merupakan kotak spora. Spora ini merupakan alat perkembangbiakan tanaman suplir.
 
Perkembangbiakan secara vegetatif buatan
Tujuan dari perkembangbiakan secara vegetatif buatan adalah untuk memperoleh tumbuhan baru dengan cepat dan tidak bergantung pada musim. Pembiakan secara vegetatif buatan di antaranya adalah cangkok, stek, okulasi, enten, dan kultur jaringan. Berikut ini beberapa cara pembiakan secara vegetatif buatan :
Cangkok

Mencangkok adalah mengembangbiakkan tanaman agar cepat berbuah dan mempunyai sifat-sifat yang sama dengan induknya. Jika tanaman induknya berbuah manis, maka cangkokannya menghasilkan buah yang manis pula. Selain itu, mencangkok lebih cepat memberikan hasil jika dibandingkan dengan menanam bijinya.
Cara pembiakan secara vegetatif yang satu ini, kita pilih dengan petimbangan tertentu, misalnya kita menginginkan tanaman baru yang mempunyai sifat persis seperti induknya. Sifat itu meliputi ketahanan terhadap hama dan penyakit, rasa buah ( khusunya tanaman buah-buahan ), keindahan bungan ( tanaman hias ), dan sebgainya. Karena seperti kita ketahui bahwa hasil cangkok bisa dikatakan hampir 100 % serupa dengan induknya, tetapi jika hasilnya menyimpang dari induknya biasanya disebabkan oleh mutasi gen.
Jenis tanaman yang biasa dicangkok adalah pohon buah-buahan, misalnya pohon mangga, beberapa jenis jeruk, berbagai jenis jambu, delima, belimbing manis dan lain sebagainya. Tanaman tersebut adalah tanaman berkayu yang mudah dicangkok. Pencangkokan ini bertujuan untuk mendapatkan tanaman baru yang mempunyai sifat baik yang sama dengan induknya misalnya rasa buah dan agar tanaman lebih kuat terhadap hama penyakit (Harmann, 2004).
Walaupun mencangkok memiliki banyak keuntungan, namun teknik perbanyakan ini tidak lepas dari beberapa kelemahan. Berikut adalah keunggulan dan kelemahan dari cangkok.
 
Kelemahan dan kelebihan mencangkok
Kelebihan :
Sifat tanaman baru persis dengan induknya
Tanaman dari bibit cangkok bisa menghasilkan buah dalam waktu relatif singkat (± 4 tahun
Waktu yang diperlukan untuk perbanyakan relatif singkat (1-3 bulan)
Kelemahan
Tidak dapat dilakukan secara besar-besaran
Bibit cangkok sulit hidup di daerah yang air tanahnya rendah karena perakarannya pendek
Tidak memiliki akar tunggang
 
Adapun Langkah – langkah mencangkok adalah sebagai berikut berikut :
Pilih cabang atau ranting yang tidak terlalu tua ataupun terlalu muda
Kuliti hingga bersih cabang atau ranting tersebut sepanjang 5-10 cm.
Kerat kambiumnya hingga bersih, dan angin-anginkan.
Tutup dengan tanah, kemudian dibungkus dengan plastik atau sabut kelapa.
Ikat pada kedua ujungnya seperti membungkus permen. Bila menggunakan plastik,lubangi plastiknya terlebih dahulu agar air siraman bisa keluar dan tanah tidak terlalu basah.
Jaga kelembaban tanah dengan cara menyiramnya setiap hari (jika musim kemarau).
Setelah banyak akar yang tumbuh, potong cabang atau ranting tersebut, kemudian tanam di pot. Setelah tumbuh dengan baik baru ditanam di tanah.
 
Stek
Stek adalah cara mengembangbiakkan tanaman dengan menggunakan bagian dari batang tumbuhan tersebut.  Bagian tanaman yang dapat ditanam dapat berupa batang, tangkai, atau daun. Tidak semua tumbuhan dapat disetek. Stek daun dapat dilakukan pada tanaman cocor bebek dan begonia. Stek akar dapat dilakukan pada tanaman sukun dan stek batang dapat dilakukan pada tanaman singkong. Stek tangkai dapat dilakukan pada tanaman mawar. Contoh tanaman yang dikembangbiakan dengan stek adalah ubi kayu, tebu, kangkung, dan mawar.  
Seperti halnya mencangkok, perbanyakan dengan cara stek ini juga memperoleh tanaman baru yang mempunyai sifat seperti induknya. Tetapi jika dibandingkan dengan cangkok, stek mempunyai kelebihan. Kalau mencangkok memerlukan bantuan pohon induk untuk menumbuhkan akar-akarnya sampai mampu berdiri sendiri, tetapi stek tidak membutuhkan hal itu, stek dengan kekuatannya sendiri akan menghasilkan akar dan daun sampai menjadi tanaman sempurna dan mampu menghasilkan bunga dan buah.
Dalam hal ini stek lebih banyak dipilih oleh petani karena bahan yang dibuat untuk membuat stek ini hanya sedikit, tetapi dapat diperoleh jumlah bibit dalam jumlah yang banyak. Tanaman yang dihasilkan dalam stek biasanya mempunyai persamaan dalam umur, tinggi, ketahanan terhadap penyakit. Selain itu kita juga bisa memperoleh tanaman yang sempurna dalam waktu yang relatif singkat.
Stek bisa dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan cara stek cabang, stek akar, stek daun, stek umbi, dan lain-lain.
Kelemahan dan kelebihan stek
Kelebihan
Tak terkendala musim/waktu
Individu baru mempunyai umur yang sama dengan induknya sehingga cepat berbuahah
Individu baru mempunyai sifat yang sama dengan induknya
Bisa memperbanyak secara kontinyu
Kelemahan
Lebih Rumit dibandingkan dengan biji
Harus memiliki Pohon Induk 
Lebih mahal dibandingkan biji
Perakaran lebih lemah dibandingkan biji
 
 
Sambung/Grafting

Grafting atau ent, adalah istilah asing yang sering kita dengar, arti dari kata tersebut adalah menggabungkan batang bawah dan batang atas dari tanaman yang berbeda sedemikian rupa, sehingga tercapai persenyawaan, kombinasi ini akan terus tumbuh membentuk tanaman baru.
Menyambung atau grafting bertujuan menggabungkan dua sifat unggul dari individu yang berbeda. Misalnya, untuk menyokong tumbuhan dibutuhkan jenis tumbuhan yang memiliki akar kuat. Sementara untuk menghasilkan buah atau daun atau bunga yang banyak dibutuhkan tumbuhan yang memiliki produktivitas tinggi. Tumbuhan yang dihasilkan memiliki akar kuat dan produktivitas yang tinggi. Contoh tumbuhan yang bisa disambung adalah tumbuhan yang sekeluarga. Contohnya, tomat dengan terung.
Grafting bukanlah sekedar menggabungkan suatu bagian tanaman, tetapi sudah merupakan suatu seni yang sudah lama dikenal dan sangat banyak variasinya. Thouin menyebutkan bahwa ada 119 bentuk grafting. Dari sekian banyak bentuk grafing ini digolongkan menjadi 3 golongan besar yaitu :
Bud-grafting atau budding, yang dikenal dengan istilah okulasi.
Scion grafting, lebih populer dengan grafting saja, yaitu sambung pucuk atau enten.
Grafting by approach atau inarching, yaitu cara menyambung tanaman sehingga batang atas dan batang bawah masih berhubungan dengan akarnya masing-masing.
 
Sama halnya dengan stek jenis tanaman yang bisa disambung adalah tanaman yang berkambium asalkan dalam satu varietas atau satu spesies. Contoh tanamannya adalah mangga, jambu, apel, dll.
Kelebihan dan kelemahan sambung atau grafting
Kelebihan
Mengekalkan sifat klon yang tidak dilakukan oleh pembiakan vegetatif lainnya.
Bisa memperoleh tanaman yang kuat karena batang bawahnya tahan terhadap keadaan tanah yang tidak menguntungkan.
Memperbaiki jenis tanaman yang telah tumbuh, sehingga jenis yang tidak diinginkan diubah menjadi jenis yang dikehendaki.
Dapat mempercepat berbuahnya tanaman.
Kelemahan
Bagi tanaman kehutanan, kemungkinan jika pohon sudah besar gampang patah jika ditiup angin kencang
Tingkat keberhasilannya rendah jika tidak cocok antara  sciondan rootstock
 
Adapun Langkah – langkah grafting adalah sebagai berikut berikut :
Pilih tanaman untuk batang bawah dan batang atas yang sehat. Batang bawah berdiameter lebih besar daripada batang atas.
Gunakan pisau steril dan tajam, untuk memotong batang bawah dengan bentuk huruf V, dan potong batang atas dengan bentuk V terbaik. Panjang batang atas idealnya 3-8 cm.
Masukkan batang atas tersebut ke dalam celah batang bawah, lalu ikat sambungan itu dengan sealtape, atau potongan plastik bening (dari kantong plastik gula pasir). Usahakan sambungan tidak terkena air.
Untuk mengurangi penguapan dan mempercepat tumbuhnya tunas, sisakan 2-4 helai daun pada batas atas; dan potong daun tersebut menjadi setengahnya atau pangkas semua daun.
Bungkus batang yang disambung tadi dengan kantong plastik, dan letakkan di tempat teduh selama sekitar 7-10 hari.
Dalam kurun waktu itu akan terlihat munculnya tunas daun. Buka kantong plastiknya; dan taruh di bawah matahari. 
 
Tempel (Okulasi)

Menempel atau okulasi adalah menempelkan tunas pada batang tanaman sejenis yang akan dijadikan induk. Tumbuhan yang akan ditempeli harus yang kuat. Tempel (okulasi) bertujuan menggabungkan dua tumbuhan berbeda sifatnya. Nantinya, akan dihasilkan tumbuhan yang memiliki dua jenis buah atau bunga yang berbeda sifat. 
Okulasi sering disebut dengan menempel, ocilatie (Belanda) atau budding (Inggris). Cara memperbanyak tanaman dengan okulasi mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan stek dan cangkok. Kelebihannya adalah hasil okulasi mempuyai mutu lebih baik dari pada induknya. Oleh karena itu okulasi dilakukan pada tanaman yang mempunyai perakaran yang baik dan tahan terhadap penyakit dan dipadukan dengan tanaman yang mempunyai rasa buah lezat, tetapi perakarannya kurang baik.
okulasi ini biasanya menggunakan batang bawah dan atas dari satu spesies atau satu varietas. Penyambungan tanaman dari satu varietas atau satu spesies memang dapat dilakukan tanpa mengalami kerusakan. Lain halnya dengan okulasi yang dilakukan antar spesiaes biasanya agak mengalami kerusakan. Hal ini dikarenakan antar batang atas dan bawah kadang-kadang terdapat perbedaam fisiologis.
Contohnya, okulasi pada bunga mawar akan menghasilkan dua warna atau lebih yang berbeda. Tumbuhan tersebut akan terlihat lebih indah karena bunganya berwarna-warni. Pada buah mangga, batang bawah memiliki perakaran kuat dan dalam serta tahan terhadap penyakit akar. Batang atas berbuah banyak dan besar serta rasa manis. Dengan okulasi batang atas ke batang bawah, maka akan didapatkan pohon mangga yang perakarannya kuat dan tahan terhadap penyakit sekaligus berbuah lebat dan manis. Selain itu okulasi juga mempercepat tanaman berbuah karena batang atas sudah melewati masa muda.
 
 
Kelebihan dan kelemahan okulasi
Kelebihan
Dengan cara okulasi dapat diperoleh tanaman yang dengan produktifitas yang tinggi.
Pertumbuhan tanaman yang seragam
Penyiapan benih relatif singkat
Kelemahan
Terkadang suatu tanaman hasil okulasi ada yang kurang normal terjadi karena tidak adanya keserasian antara batang bawah dengan batang atas (entres)
Perlu menggunakan tenaga ahli untuk pengokulasian ini.
Bila salah satu syarat dalam kegiatan pengokulasian tidak terpenuhi kemngkinan gagal atau mata entres tidak tumbuh sangat besar.
 
Adapun Langkah – langkah okulasi adalah sebagai berikut berikut :
Siapkan batang bawah, umur tanaman tergantung dari jenis tanaman apa yang akan diokulasi. 
Siapkan batang atas berupa kulit kayu dan mata tunas dari induk tanaman yang berkualitas baik dan memiliki sifat unggul.
Iris dan sayat batang bawah dengan panjang 2-3 cm, lebar 1-1,5 cm.
Sisipkan mata tunas ke irisan yang telah dibuat pada batang bawah, lakukan dengan cepat. Jangan sampai luka sayatan kering. Pastikan tidak ada celah antara luka sayatan dengan mata tunas.
Ikat tempelan menggunakan tali rafia, arah pengikatan dari bawah ke atas sehingga tali tersusun rapat seperti genting dan tidak ada celah kecuali pada bagian mata tunas.
Setelah 2 minggu, lihat mata tunas. Jika berwarna hijau kemerahan atau hitam berarti okulasi gagal. Sedangkan jika warnanya masih hijau segar dan melekat pada batang pokok berarti okulasi berhasil dan ikatannya sudah boleh dilepas. Waktu pengikatan bisa sampai 3 minggu.
Bila telah ada kepastian bahwa mata tempelan sudah hidup, segera potong batang yang berada di atas mata tempelan, tujuannya agar sumber makanan tertuju pada tunas dari tempelan. Jika tidak, tempelan akan mati. Panjang pemotongan batang dan jarak pemotongan dari mata tempelan berbeda-beda tergantung dari jenis tanaman yang diokulasi.
Kultur jaringan
Kultur jaringan adalah teknik perbanyakan tanaman dengan cara memperbanyak jaringan mikro tanaman yang ditumbuhkan dengan cara in vitro menjadi tanaman yang sempurna dalam jumlah yang tidak terbatas. Dengan dasar tumbuhan memiliki sifat totipotensi sel, yaitu kemampuan untuk membelah diri dengan kondisi lingkungan yang sesuai.
Teknik kultur jaringan telah digunakan dalam membantu produksi tanaman dalam skala besar melalui mikropropagasi atau perbanyakan klonal dari berbagai jenis tanaman. Jaringan tanaman dalam jumlah yang sedikit dapat menghasilkan ratusan atau ribuan tanaman secara terus menerus.
Teknik ini telah digunakan dalam skala industri di berbagai negara untuk memproduksi secara komersial berbagai jenis tanaman seperti tanaman hias (anggrek, bunga potong, dll.), tanaman buah-buahan (seperti pisang), tanaman industri dan kehutanan (kopi, jati, dll). Dengan menggunakan metoda kultur jaringan, jutaan tanaman dengan sifat genetis yang sama dapat diperoleh hanya dengan berasal dari satu mata tunas. Oleh karena itu metoda ini menjadi salah satu alternatif dalam perbanyakan tanaman secara vegetatif. 
 
Kelebihan dan kelemahan okulasi
Kelebihan
Pengadaan bibit tidak bergantung pada musim
Produksi bibit dapat diproduksi dalam jumlah besar dalam waktu yang relatif cepat
Bersifat seragam
Bibit yang dihasilkan bebas penyakit asalkan diambil dari organ yang bebas dari penyakit juga
Daya pengangkutan lebih murah dan mudah
Proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit dan deraan lingkungan lainnya
Kelemahan
Kultur jaringan Memerlukan biaya besar karena harus dilakukan di dalam laboratorium dan menggunakan bahan kimia
Kultur jaringan Memerlukan keahlian khusus
Kultur jaringan Memerlukan aklimatisasi ke lingkungan eksternal karena tanaman hasil kultur biasanya berukuran kecil dan bersifat aseptik serta sudah terbiasa berada di tempat yang mempunyai kelembapan udara tinggi

 
Faktor yang mempengaruhi perbanyakan tanaman
Adapun faktor – faktor yang dapat mempengaruhi perbanyakan tanaman dalah :
Faktor Suhu / Temperatur Lingkungan
Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan tumbuh kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman. Suhu yang baik bagi tumbuhan adalah antara 22 derajat celcius sampai dengan 37 derajad selsius. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti.
Faktor Kelembaban / Kelembapan Udara
Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan di mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada pembentukan sel yang lebih cepat.
Faktor Cahaya Matahari
Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat melakukan fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tanaman kekurangan cahaya matahari, maka tanaman itu bisa tampak pucat dan warnatanaman itu kekuning-kuningan (etiolasi). Pada kecambah, justru sinar mentari dapat menghambat proses pertumbuhan.
Faktor Hormon
Hormon pada tumbuhan juga memegang peranan penting dalam proses perkembangan dan pertumbuhan seperti hormon auksin untuk membantu perpanjangan sel, hormon giberelin untuk pemanjangan dan pembelahan sel, hormon sitokinin untuk menggiatkan pembelahan sel dan hormon etilen untuk mempercepat buah menjadi matang.

DAFTAR PUSTAKA
Nur Syah Fitriani. 2017.Perkembangbiakan Tanaman Secara Vegetatif. Makalah Pemuliaan Tanaman. Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Samawa
Widiarsih, Minarsih, Dzurrahmah, Wirawan, dan Suwarno. 2008. Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif Buatan. http://willy.situshijau.co.id. [4 Desember   2012].
Wudianto, R. 1987. Membuat Setek, Cangkok dan Okulasi. Jakarta: Penebar Swadaya.
Zohary, D. & Hopf, M. 2000. Domestication of Plants in the Old World. Oxford Univ. Press. London.
Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman. Jakarta:Penerbit Bumi Aksara

KEMUNDURAN BENIH ATAU SEED DETERIORATION

Ilmu dan Teknologi Benih
Seed Science and Technology

———————————-

Tingkat kualitas benih yang terbaik tercapai pada saat benih masak fisiologis karena pada saat benih masuk fisiologis maka berat kering benih, viabilitas dan vigornya tertinggi.
Setelah masak fisiologis kondisi benih cenderung menurun sampai
pada akhirnya benih tersebut kehilangan daya viabilitas dan vigornya sehingga benih tersebut mati. Proses penurunan kondisi benih setelah masak fisiologis
itulah yang disebut sebagai peristiwa deteriorasi atau benih mengalami proses menua. Proses penurunan kondisi benih tidak dapat dihentikan tetapi dapat
dihambat.

A. Pengertian Kemunduran Benih

Kemunduran benih merupakan proses penurunan mutu secara
berangsur-anngsur dan kumulati serta tidak dapat balik (irreversible) akibat perubahan fisisologis yang disebabkan oleh faktor dalam. Kemunduran benih
beragam, baik antarjenis, antarvarietas, antarlot, bahkan antarindividu dalam suatu lot benih. Kemunduran benih dapat menimbulkan perubahan secara
menyeluruh di dalam benih dan berakibat pada berkurangnya viabilitas benih (kemampuan benih berkecambah pada keadaan yang optimum) atau penurunan daya kecambah. Proses penuaan atau mundurnya vigor secara fisiologis ditandai dengan penurunan daya berkecambah peningkatan jumlah
kecambah abnormal, penurunan pemunculan kecambah di lapangan (field emergence) terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman,
meningkatnya kepekaan terhadap lingkungan yang ekstrim yang akhirnya dapat menurunkan produksi tanaman (Copeland dan Donald, 1985).

Kemunduran benih adalah mundurnya mutu fisiologis benih yang dapat menimbulkan perubahan menyeluruh di dalam benih, baik fisik, fisiologi maupun kimiawi yang mengakibatkan menurunnya viabilitas benih
(Sadjad, 1994).

Kemunduran benih dapat diterangkan sebagai berikut:
1. Yang dimaksud laju deteriorasi adalah berapa besarnya
penyimpanagna terhadap keadaan optimum untuk mencapai
maksimum. Hal ini dipengaruhi oleh dua peristiwa, yaitu:
a. Merupakan sifat genetis benih
Kemunduran benih karena sifat genetis biasa disebut proses
deteriorasi yang kronologis artinya, meskipun benih ditangani
dengan baik dan faktor lingkungannya pun mendukung namun
proses ini akan tetap berlangsung.
b. Karena deraan lingkungan
Proses in biasa disebut proses deteriorasi fisiologis. Proses ini
terjadi karena adanya faktor lingkungan yang tidak sesuai
dengan persyaratan penyimpanan benih, atau terjadi
penyimpangan selama proses pembentukan dan prosesing
benih.
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hidup Benih
Faktor-faktor yang mempengaruhi viabilitas benih selama
penyimpanan dibagi menjadi factor internal dan eksternal. Faktor internal
mencakup sifat genetik, daya tumbuh dan vigor , kondisi kulit dan kadar air
benih awal. Faktor eksternal antara lain kemasan benih, komposisi gas, suhu
dan kelembaban ruang simpan (Copeland dan Donald, l985).
1. Faktor internal benih
Faktor internal benih mencakup kondisi fisik dan keadaan
fisiologinya. Contoh: benih yang retak, luka, dan tergores akan lebih cepat
mengalami kemunduran. Faktor induced selama perkembangan benih di
lapangan mempengaruhi keadaan fisiologinya, sebagai contoh terjadi
kekurangan mineral (seperti N, K, Ca), air, dan suhu yang ektrim di
lapangan.
2. Kelembaban nisbi (relative humidity=RH) dan temperatur.
a. RH mempengaruhi kadar air benih, dan kadar air benih mempengaruhi
mempengaruhi respirasi benih
b. RH lingkungan dipengaruhi oleh suhu (T) lingkungan
c. RH dan T saling berkaitan dan mempengaruhi kemunduran benih:
1) setiap penurunan kadar air 1% menggandakan masa hidup dua kali,
dan
2) setiap penurunan suhu ruang simpan 5Co akan menggandakan masa
hidup benih dua kali.
d. Untuk penyimpanan:
1) % RH + o F ≤ 100 (Harrington, 1973) (KA benih 5‐14%)
2) % RH + o F ≤ 120 (Bass, 1973) s/d 3 tahun dengan proporsi o F ≤ 60
3. Kadar air benih (KA)
Menurut Harrington (1972), masalah yang dihadapi dalam
penyimpanan benih makin kompleks sejalan dengan meningkatnya kadar
air benih. Penyimpanan benih yang berkadar air tinggi dapat menimbulkan
resiko terserang cendawan. Benih adalah bersifat higroskopis, sehingga
benih akan mengalami kemundurannya tergantung dari tingginya faktorfaktor
kelembaban relatif udara dan suhu lingkungan dimana benih
disimpan.
a. KA > 14% ‐ respirasi tinggi suhu meningkat, investasi cendawan
b. KA 14% dapat terbentuk kristal es pada ruang
antarsel dalam benih
b. pada T < 00C dan KA < 14% tidak membentuk kristal es, tetapi benih
akan meningkat KA-nya
Pada umumnya pada ruang dengan T rendah dan RH tinggi sehingga KA
akan tinggi.
5. Genetik
a. Benih berentang hidup panjang (Benih Fosil):
1) Lupin : 10.000 th masih hidup (tertimbun di tanah gambut kanada)
(Porsild dan Harrington, 1967)
2) Indian lotus : 120-400 th masih hidup (terbenam di dasar danau di
Mansuria)(Ohga, 1926)
3) Benih2 ortodoks lain: Albizia, Cassia, Trifolium,
b. Benih berentang hidup pendek:
1) Accer saccharinum : beberapa hari saja setelah lepasdari induknya
sudah mati
2) Zizzania aquatica
3) Willow, poplar, kapas, dll benih rekalsitran (shorea, cacao, mangga,
dll)
6. Mikroflora
a. Terbawa dari lapangan : optimum hidup pada RH 90-95% atau KA
benih 30-35%
b. Cendawan gudang : optimum hidup pada RH 60-90%
1) Aspergillus sp. atau KAK pada RH itu
2) Penicillium sp.
7. Kerusakan mekanik (akibat panen dan pengolahan)
a. terutama pada bagian embrio
b. pada bagian non embrio dapat meningkatkan serangan mikroflora
8. Tingkat kemasakan benih
Potensi mutu terbaik dicapai pada saat benih telah mencapai masak
fisiologi (MF).
a. Benih kurang masak, potensi mutunya masih kurang tinggi
b. Benih lewat masak di lapangan, potensi sudah mulai turun oleh deraan
cuaca di lapangan
C. Ciri proses deteriorasi
Benih yang mengalami proses deteriorasi akan menyebabkan turunnya
kualitas dan sifat benihjika dibandingkan pada saat benih tersebut mencapai
masa fisiologinya.
Turunnya kualitas benih dapat mengakibatkan viabilitas dan vigor
benih menjadi rendah yang pada akhirnya akan mengakibatkan tanaman
menjadi buruk. Hal ini dapat dilihat pada tanaman di lahan yang memiliki
viabilitas yang tinggi dan hasil panen yang menjadi jelek.
RC. Mabesa (1993) mencirikan proses deteriorasi sebagai berikut :
· Proses ini merupakan proses yang tidak dapat ditawar, pasti terjadi
pada semnua benih. Yang berbeda hanyalah laju deteriorasinya
saja.
· Proses ini merupakan proses yang searah. Benih yang telah
mengalami deteriorasi tidak akan kembali ke keberadaan semula,
meskipun dengan memberikan perlakuan tertentu padanya.
· Proses ini pada saat benih telah mencapai masak fisiologis sangat
rendah lajunya. Laju deteriorasi benih ini di waktu kemudian
berhubungan erat dengan kondisi linkungan dan penanganannya.
· Laju deteriorasi spesies yang satu dengan yang lain berbeda dan
berbeda pula laju deteriorasi varietas-varietas dalan satu spesies.
· Laju deteriorasi berbeda antara seed lot dalam satu spesies/ varietas
dan juga antar individu dalam satu seed lot.
Delouche dan Baskin (1973) menggambarkan proses (sequence)
terjadinya deteriorasi dalam benih sebagai berikut :
· Berkurangnya laju respirasi
· Benih yang telah mengalami deteriorasi setelah terjadinya imbibisi
mempunyai laju respirasu yang lebih rendah disbanding benih yang
belum mengalami deteriorasi. Hal ini disebabkan oleh aktivitas
enzim respirasi yang mulai menurun.
· Peningkatan kandungan asam lemak dalam benih (increase in fatty
acid).
Pada benih yang telah mengalami deteriorasi akan meningkat
kandungan asam lemaknya
· Laju perkecambahan rendah (slower germination rate)
Benih yang telah mengalami deteriorasi jika dikecambahkan maka laju
perkecambahannya rendah, yang berarti benih membutuhkan waktu yang
lebih lama untuk berkecambah.
· Laju pertumbuhan kecambah lambat (slower rate of growth
development). Benih yang telah mengalami deteriorasi setelah
berkecambah maka pertumbuhan kecambahnya akan menjadi
lambat.
· Berkurangnya daya tahan menghadapi tekanan lingkungan. Benih
atau kecambah dari benih yang telah mengalami deteriorasi
memiliki daya tahan yang rendah terhadap penyimpangan kondisi
lingkungan.
· Kecambah tidak mampu muncul di lahan. Kecambah dari ben ih
yang telah mengalami deteriorasi seringkali tidak dapat muncul ke
permukaan tanah karena kecambah tersebut kekurangan energy
untuk tumbuh terus ke permukaan lahan. Hal inilah yang sering
menyebabkan adanya perbedaan nilai persentase viabilitas benih di
dalam pengujian di laboratorium dengan kenyataan benih/
kecambah yang dapat tumbuh terus di lading. Bagi petani yang
penting adalah niali persentase benih/ kecambah yang dapat
tumbuh di lahan.
· Banyak kecambah abnormal. Jika kita mengecambahkan benih
yang telah mengalami deteriorasi maka persentase kecambah
abnormal akan meningkat yang kemudian menyebabkan persentase
viabilitas benih menjadi rendah karena yan akan dihitung hanyalah
kecambah normal.
· Enzim menjadi aktif. Dalam benih yang mengalami deteriorasi
aktivitas enzimnya jauh berkurang atau bahkan tidak berfungsi.
Hal ini disebabkan terjadinya perombakan/ penguraian enzim yang
selanjutnya akan menghambat atau bahkan menyebabkan benih
kehilangan kemampuannya untuk berkecambah.
· Terjadinya kebocoran sel. Benih yang telah mengalami deteriorasi
bila mengalami deteriorasi bila mengalami imbibisi akan terjadi
kebocoran membrane sel sehingga ada unsure-unsur yang keluara
dari benih. Kebocoran ini menyebabkan benih menjadi kekurangan
bahan yang dapat dirombak untuk menghasilkan tenaga yang
dibutuhkan untuk proses sintesa protein guna pembentukan dan
pertumbuhan sel-selnya. Akibatnya, akan banyak ditemukan
kecambah abnormal atau bahkan benih yang tidak mampu
berkecambah sama sekali.
· Rentang persyaratan berkecambah menjadi lebih sempurna. Setiap
benih memiliki persyaratan agar benih tersebut tetap mampu
berkecambah. Pada benih yang telah mengalami deteriorasi,
rentang ini menjadi lebih sempit atau seringkali dikatakan bahwa
benih tersebut sangat peka terhadap kondisi lingkkungan.
· Keragaman tinggi. Benih yang telah mengalami deteriorasi jika
dikecambahkan/ ditanam di lahan keragamannya akan tinggi (tidak
seragam pertumbuhannya).
· Penurunan hasil panen. Hasil panen akan menurun jika petani
dalam ussaha taninya memakai benih yang telah mengalami
deteriorasi, terutama karena akibat keragaman tanaman di lahan.
· Perubahan warna. Benih yang telah mengalami deteriorasi
warnanya akan berubah, halmiini biasanya dipakai sebagai salah
satu tolak ukur pertama, meskipun kendala yang kita hadapi
perubahan ini sangat subyektif.
Proses yang terjadi pada benih yang mengalamiproses deteriorasi
menurut JC. Delouche sebagai berikut:
· Kerusakan membrane pada benih yang menua akan mengakibatkan
kerusakan dinding sel sehingga mengakibatkan terjadinya
kebocoran jika benih berimbibisi.
· Proses biosintesis yang tak berimbang
· Ketidakseimbangan proses biosintesis yang disebabkan proses
katabolisme dan anabolisme yang tidak sinkron akan mengganggu
proses perkecambahan benih.
· Laju perkecambahan dan perkembangan kecambah lambat dan
tidak seragam. Pada benih yang telah menua juka masih dapat
berkecambah maka pertumbuhan/ perkembangan kecambahnya
lambat dan tidak merata.
· Rentan terhadap stress faktor lingkungan. Benih yang telah menua
akan sangat peka terhadap perubahan faktor lingkungan pada saat
dikecambahkan.
· Kondisi kecambah jelek. Kecambabh yang dihasilkan kondisinya
jelek sekali.
· Penyimpang morfologis. Kecambah yang terbentuk tidak normal.
Hal ini dapat dilihat dengan tingginya persentase kecambah
abnormal.
· Tidak berkecambah. Benih yang dikecambahkan tidak
berkecambah meskipun benih tersebut sebenarnya belu mati.
· Mati (death). Benih mati dapat diketahui dengan uji tetrazolium.
D. Tanda-tanda Kemunduran Benih
1. Gejala Fisiologis
Menurut Toole, Toole dan Gorman (dalam Abdul Baki dan
Anderson. 1972), kemunduran benih dapat ditunjukkan oleh gejala
fisiologis sebagai betikut: (a) terjadinya perubahan warna benih (b)
tertundanya perkecambahan; (c) menurunnya, toleransi terhadap kondisi
lingkungan sub optimum selama perkecambahan (d) rendahnya toleransi
terhadap kondisi simpan yang kurang sesuai (e) peka terhadap radiasi; (f)
menurunnya pertumbuhan kecambah; (g) menurunnya daya berkecambah,
dan (h) meningkatnya jumlah kecambah abnormal. Abdul Baki dan
Anderson (1972) mengemukakan indikasi biokimia dalam benih yang
mengalami kemunduran viabilitas adalah sebagai berikut: (a) perubahan
aktivitas enzim (b) perubahan laju respirasi; (c) perubahan di dalam
cadangan makanan; (d) perubahan di dalam membran, dan (e) kerusakan
kromosom.
Gejala fisiologis dipengaruhi pula oleh:
a. Aktivitas enzim menurun: dehidrogenase, glutamat dekarboksilase,
katalase, peroksidase, fenolase, amilase, sitokrom oksidase.
b. Respirasi menurun : konsumsi O2 rendah, produksi CO2 rendah,
produksi ATP rendah
c. Bocoran metabolit meningkat: menjadikan nilai daya hantar listrik
meningkat dan gula terlarut menigkat
d. Kandungan Asam Lemak Bebas meningkat:
1) Lipid: asam lemak + gliserol
2) Benih kapas dengan kandungan Asam Lemak Bebas ≥1% sudah
tidak mampu berkecambah.
2. Gejala Kinerja Benih
a. kinerja perkecambahan rendah: KT rendah, dan tidak seragam
b. Daya suai terhadap lingkungan rendah
c. Daya tumbuh di lapang rendah
d. Tidak tahan terhadap cekaman lingkungan
3. Pemudaran Warna kibat penuaan
Kemunduran warna akibat penuaan yaitu warna benih mencoklat (terutama
bila terdedah pada cahaya) pada embrio atau pada kulit benih.
E. Kemungkinan Penyebab Kemunduran Benih
1. Autoxidasi Lipid: dapat terjadi pada benih:
a. KA 20%, cukup untuk mengaktifkan enzim2 hidrolotik
(lipase, fosfolipase, fosfatase, amilase)
6. Degradasi Genetik sebagai penyebab utama ketuaan
7. perubahan sifat kromosom (selaras dengan penuaan)
a. mutasi genetik; berkorelasi dengan ketuaan dan hilangnya viabilitas
8. Habisnya cadangan makanan (sudah tidak diterima)
9. Kelaparan sel meristematik: jauhnya jarak antara cadangan makanan
dengan sel-sel meritematik
10. Akumulasi senyawa beracun (toxic)
a. embrio baik pada endosperm tua
b. embrio tua pada endosperm baik
Keduanya : menunjukkan vigor dan perkecambahannya buruk
F. Pengendalian Kemunduran Benih
Dalam kegiatan pertanian, terjadinya kemunduran benih merupakan
salah satu faktor penyebab menurunnya produktivitas tanaman sehingga hal
ini hanrus dihindari. Hasil-hasil penelitian menunjukkan dengan memberikan
perlakuan pada benih yang memperlihatkan gejala kemunduran, dapat
memperbaiki kondisi benih.
Murray dan Wilson (1987) melaporkan kemunduran benih dapat
dikendalikan dengan cara “invigorasi” melalui proses hidrasi-dehidrasi. Sadjad
(1994) mendefinisikan invigorasi sebagai proses bertambahnya vigor benih.
Dengan demikian perlakuan invigorasi adalah peningkatan vigor benih dengan
memberikan perlakuan pada benih. Menurut Khan (1992) perlakuan pada
benih adalah untuk memobilisasi sumber-sumber energi yang ada dalam benih
untuk bekerja sama dengan sumber-sumber energi yang ada di luar atau di
lingkungan tumbuh untuk menghasilkan pertanaman dan hasil yang maksimal.
Perlakuan benih yang telah dikenal antara lain presoaking dan
conditioning. Menurut Khan (1992) presoaking adalah perendaman benih
dalam sejumlah air pada suhu rendah sampai sedang, sedangkan conditioning
adalah peningkatan mutu fisiologi dan biokimia (berhubungan dengan
kecepatan dan perkecambahan, perbaikan serta peningkatan potensial
perkecambahan) dalam benih oleh media imbibisi potensial air yang rendah
(larutan atau media padatan lembab) dengan mengatur hidrasi dan
penghentian perkecambahan. Benih menyerap air sampai potensial air dalam
benih dan media pengimbibisi sama (dicapai keseimbangan potensial air).
Presoaking dalam periode singkat menghasilkan efek yang cukup baik
terhadap peningkatan perkecambahan dan pertumbuhan kecambah.
Pengeringan tidak mengurangi pengaruh positif dari presoaking (Kidd and
West dalam Khan, 1992). Perlakuan presoaking berpengaruh baik pada benih
yang bervigor sedang.
Hadiana (1996) melaporkan perlakuan presoaking atau conditioning
secara nyata efektif meningkatkan viabilitas dan vigor benih sebelum
penyimpanan, dapat meningkatkan daya berkecambah potensi tumbuh,
keserempakan tumbuh, dan bobot kering kecambah normal.
Benih bermutu merupakan salah satu faktor yang memegang peranan
penting dalam budidaya tanaman cabai. Suplai benih untuk musim tanam
berikutnya, mengharuskan terjadinya proses penyimpanan benih. Apabila
penyimpanan tidak ditangani dengan baik, maka benih akan mudah
mengalami kemunduran sehingga mutunya menjadi rendah. Disamping itu,
perkecambahan cabai lambat dan tidak seragam. Ilyas (1994) menyatakan
bahwa benih cabai memerlukan imbibisi yang lama sebelum berkecambah dan
suhu yang agak tinggi untuk mencapai perkecambahan maksimum.
Menurut Khan et al. (1992), imbibisi pada benih yang dilakukan
secara tiba-tiba apalagi terhadap benih dengan kadar air sangat rendah dan
benih yang mengalami penyimpanan yang lama dapat menyebabkan
kerusakan pada struktur membran sehingga perlu suatu kondisi dimana
imbibisi dilaksanakan secara terkontrol. Salah satu upaya yang dapat
dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan invigorasi benih
yaitu dengan cara mengkondisikan benih sedemikian rupa sehingga karakter
fisiologi dan biokimiawi yang terdapat di dalam benih dapat dimanfaatkan
secara optimal.
Perlakuan benih secara fisiologis untuk memperbaiki perkecambahan
benih melalui imbibisi air secara terkontrol telah menjadi dasar dalam
invigorasi benih. Saat ini perlakuan invigorasi merupakan salah satu alternatif
yang dapat digunakan untuk mengatasi mutu benih yang rendah yaitu dengan
cara memperlakukan benih sebelum tanam untuk mengaktifkan kegiatan
metabolisme benih sehingga benih siap memasuki fase perkecambahan.
Selama proses invigorasi, terjadi peningkatan kecepatan dan keserempakan
perkecambahan serta mengurangi tekanan lingkungan yang kurang
menguntungkan. Invigorasi dimulai saat benih berhidrasi pada medium
imbibisi yang berpotensial air rendah. Biasanya dilakukan pada suhu 15-20oC.
Setelah keseimbangan air tercapai selanjutnya kandungan air dalam benih
dipertahankan (Khan, 1992)
Berbagai cara dapat dilakukan sehubungan dengan perlakuan
invigorasi benih sebelum tanam yaitu osmoconditioning, priming,
moisturizing, hardening, humidification, solid matrix priming,
matriconditioning dan hydropriming. Namun demikian cara yang umum
digunakan adalah osmoconditioning (conditiong dengan menggunakan larutan
osmotik seperti PEG, KNO3, KH2PO4, NaCl dan manitol) dan
matriconditioning (conditioning dengan menggunakan media padat lembap,
seperti Micro-Cel E, Vermikulit, juga telah dipelajari beberapa media
alternatif antara lain abu gosok dan serbuk gergaji).
Benih yang dipanen lewat masak fisiologis biasanya sudah
mengalami penurunan mutu. Untuk mengatasi permasalahan terjadinya
kemunduran mutu benih baik yang diakibatkan oleh faktor penyimpanan
maupun diakibatkan oleh faktor kesalahan dalam penanganan benih, salah
satunya dapat dilakukan dengan melakukan teknik invigorasi (perlakuan fisik
atau kimia untuk meningkatkan atau memperbaiki vigor benih). Perlakuan ini
sudah banyak dilakukan pada beberapa tanaman seperti tanaman padi dan
kedelai. Pada tanaman jambu mete perlakuan invigorasi dapat meningkatkan
daya berkecambah, kecepatan tumbuh dan berat kering benih jambu mete.
Untuk mengatasi permasalahan terjadinya kemunduran mutu benih
baik yang diakibatkan oleh faktor penyimpanan maupun diakibatkan oleh
faktor kesalahan dalam penanganan be-nih, dapat dilakukan dengan
melakukan teknik “invigorasi”. Invigorasi adalah suatu perlakuan fisik atau
kimia untuk meningkatkan atau memperbaiki vigor benih yang telah
mengalami kemun-duran mutu (Basu dan Rudrapal, 1982).

Pembuahan Tunggal dan Pembuahan Ganda Tanaman Tingkat Tinggi

Pada tumbuhan tingkat tinggi dikenal dengan 2 macam pembuahan yakni pembuahan tunggal dan pembuahan ganda. Pembuahan tunggal ini terjadi pada gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka) sedangkan untuk pembuahan ganda akan terjadi pada angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup).

A. Pembuahan Tunggal
Pembuahan tunggal terjadi pada tumbuhan Gymnospermae atau tumbuhan berbiji terbuka. Berikut adalah urutan/langkah pembuahannya:
1. Pembuahan tunggal diawali dengan peristiwa menempelnya serbuk sari pada lubang bakal biji yang mengandung tetes-tetes penyerbukan.
2. Serbuk sari selanjutnya membentuk buluh serbuk sari yang berkembang dari sel vegetatif di dalam serbuk sari.
3. Buluh serbuk sari tumbuh mengarah ke arkegonium melalui mikrofil.
4. Sementara itu, sel generatif akan membelah menjadi sel dislokator (tangkai sel) dan sel spermatogen (sel tubuh),
5. Sel spermatogen akan membelah menjadi dua, yang satu berukuran besar dan yang satunya berukuran kecil.
6. Pada saat mencapai sel telur, sel dislokator dan sel sperma kecil melebur (degenerasi)
7. Sel sperma besar bersatu dengan sel telur menghasilkan zigot yang akan tumbuh menjadi embrio atau lembaga.

Contoh Pembuahan tunggal adalah pada tumbuhan pinus. Tumbuhan ini memiliki struktur reproduksi yang disebut konus karena pinus tidak menghasilkan bunga. Konus terdiri atas dua jenis, konus jantan dan konus betina yang terdapat pada pohon yang sama.

Konus betina lebih bersisik dan lebih besar dibandingkan dengan konus jantan. Konus jantan menghasilkan mikrospora yang akan berkembang menjadi sebuk sari (gametofit jantan) dan konus betina menghasilkan megaspora yang akan tumbuh menjadi gametofit betina.

Proses penyerbukan dibantu oleh angin, serbuk sari akan jatuh pada konus betina dan ditarik masuk ke dalam bakal biji. Serbuk sari akan membentuk tabung serbuk sari yang berfungsi membuka jalan menuju sel telur. Sel sperma dari serbuk sari akan membuahi sel telur dan terjadi pembuahan menghasilkan zigot. Pembuahan pada pinus disebut sebagai pembuahan tunggal karena hanya terjadi pembuahan untuk menghasilkan zigot. Sedangkan pembuahan ganda pada angiospermae terjadi dua macam pembuahan dengan hasil zigot dan endosperma.
Zigot akan berkembang menjadi embrio yang masih terdapat di dalam gametofit betina. Gametofit betina menyediakan persediaan makanan bagi embrio pinus. Biji tumbuhan pinus terdiri atas embrio yang terletak dalam jaringan gametofit betina yang dibungkus oleh selaput biji. Selain itu, biji pinus memiliki struktur mirip sayap agar biji pinus mudah diterbangkan oleh angin sehingga dapat tumbuh di tempat yang jauh dari induknya.

Yang unik dari tumbuhan pinus adalah bahwa proses pembuahan pembuahan terjadi lebih dari satu tahun setelah proses penyerbukan. Hal ini didukung dengan struktur konus yang keras dan tidak cepat busuk sehingga bisa bertahan sangat lama, berbeda dengan bunga yang angiospermae yang hanya dapat bertahan selama beberapa hari saja.

2. Pembuahan Ganda
Angiospermae mengalami pembuahan ganda untuk membentuk embrio dan cadangan makanan (endosperma). Disebut pembuahan ganda karena memang terjadi dua kali proses pembuahan yaitu:

Peleburan inti generatif 1 dengan ovum (sel telur) membentuk zigot yang akan berkembang menjadi embrio.

Peleburan inti generatif 2 dengan inti kandung lembaga sekunder membentuk endosperma (cadangan makanan).

Pembuahan akan diawali terlebih dahulu oleh proses penyerbukan, yaitu jatuhnya serbuk sari pada kepala putik. Inti sel dalam serbuk sari akan membelah membentuk inti vegetatif, inti generatif 1, dan inti generatif 2. Setelah beberapa saat, serbuk sari akan berkecambah membentuk tabung serbuk sari sebagai jalan menuju kantung embrio. Kantung embrio terdapat pada dasar putik dan merupakan tempat terjadinya pembuahan. Inti sel serbuk sari nantinya akan berjalan di sepanjang tabung serbuk sari untuk mencapai kantung embrio tersebut.

Inti vegetatif akan berjalan di depan inti generatif karena berperan sebagai penunjuk jalan bagi kedua inti generatif tersebut. Setelah sampai di kantung embrio, inti generatif 1 akan membuahi ovum membentuk zigot dan inti generatif 2 akan membuahi inti kandung lembaga sekunder membentuk endosperma.

Sel telur yang bersifat haploid (n) akan dibuahi inti generatif 1 yang bersifat haploid (n) sehingga akan menghasilkan zigot yang bersifat diploid (2n). Inti kandung lembaga sekunder akan dibuahi oleh inti generatif 2 sehingga terbentuk endosperma. Endosperma bersifat triploid (3n) karena merupakan penyatuan 2 inti kandung lembaga sekunder dan inti generatif 2 yang masing-masing bersifat haploid.
Zigot nantinya akan berkembang menjadi embrio calon individu baru, sedangkan endosperma merupakan cadangan makanan bagi perkembangan embrio. Endosperma akan digunakan sebagai sumber makanan pertama pada proses perkecambahan biji.

Struktur dan Anatomi Benih

A. Pengertian dan Fungsi Benih

Biji merupakan bagian yang berasal dari bakal biji dan di dalamnya mengandung calon individu baru, yaitu lembaga. Lembaga akan terjadi setelah terjadi penyerbukan atau persarian yang diikuti oleh pembuahan.
Biji (bahasa Latin:semen) adalah bakal biji (ovulum) dari tumbuhan berbunga yang telah masak. Dari sudut pandang evolusi, biji merupakan embrio atau tumbuhan kecil yang termodifikasi sehingga dapat bertahan lebih lama pada kondisi kurang sesuai untuk pertumbuhan
Biji merupakan bagian tumbuhan yang terbentuk dari hasil pembuahan (fertilisasi) yang terletak di dalam bakal buah.Di dalam bakal buah terdapat bakal biji.Di dalam bakal biji terdapat embrio yang merupakan calon individu.
Perbedaan fungsi yang mendasar antara biji dengan benih adalah biji digunakan untuk kepentingan konsumsi manusia dan ternak sementara benih adalah biji yang digunakan untuk bahan pertanaman atau perbanyakan tanaman.
Setiap embrio di dalam bakal biji atau benih terdiri atas akar lembaga, daun lembaga, dan batang lembaga.
1. Akar lembaga (radikula), merupakan calon akar.
2. Daun lembaga (kotiledon), merupakan daun pertama pada tumbuhan. Berfungsi sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis sebelum daun sebenarnya terbentuk. Bagian ini juga berfungsi untuk menimbun cadangan makanan
3. Batang lembaga, dibedakan menjadi ruas batang di atas daun lembaga dan ruas batang di bawah daun lembaga. Daun lembaga dan batang lembaga sering juga disebut plumula (puncak lembaga). (Hidayat:1995)
Pada Angiospermae, bakal biji terbungkus oleh daun buah, sedangkan pada Gymnospermae tidak. Biji atau benih berfungsi sebagai penyimpan cadangan makanan dan alat penyebaran tumbuhan. Penyebaran benih dapat terjadi dengan bantuan angin, air, kelelawar, dan manusia.
1) Angin, contoh : kapuk
2) Air, contoh : kelapa
3) Kelelawar, contoh : sawo kecik
4) Manusia contoh : kina dan berbagai jenis tumbuhan yang bernilai ekonomi. (Suradinata:1998)
B. Struktur Anatomi Biji
1. Bagian Biji Sebelah Dalam
Pada bagian biji sebelah dalam terdapat embrio dan bagian-bagian embrio yaitu akar embrio (radicula), batang embrio (cauliculus) dan keping biji (cotyledo).
Lembaga dan putih lembaga merupakan inti biji atau isi biji.Bagian ini terdapat di dalam kulit biji.Lembaga atau embrio terdiri atas akar lembaga (radikula), daun lembaga (kotiledon), dan batang lembaga. Putih lembaga terdiri atas putih lembaga dalam (endosperma) dan putih lembaga luar (perisperma).
Bagian embrio, seperti radikula akan berkembang menjadi akar. Pada tumbuhan Dicotyledoneae, radikula akan berkembang menjadi akar tunggang. Pada Monocotyledoneae, akar tersebut akan berkembang menjadi akar primer, namun masa hidupnya tidak lama karena segera diganti oleh sistem akar sekunder. Kotiledon pada biji dapat berfungsi sebagai tempat penimbunan makanan, alat untuk berfotosintesis sementara, dan sebagai alat untuk menghisap makanan dari putih lembaga.Batang lembaga terdiri atas epikotil dan hipokotil. Epikotil adalah pemanjangan ruas batang di atas kotiledon, sedangkan hipokotil adalah pemanjangan ruas batang di bawah kotiledon.Batang lembaga dan calon-calon daun merupakan bagian lembaga yang disebut plumula. (Yatim: 2007)
Bagian putih lembaga, seperti endosperma merupakan cadangan makanan pada biji. Berdasarkan pembentukannya, endosperma berasal dari sel induk endosperma yang telah dibuahi oleh sel sperma. Perisperma merupakan putih lembaga luar.Bagian ini berasal dari nuselus atau selaput bakal biji.
a. Selaput biji (arillus)
Selaput biji merupakan pertumbuhan dari tali pusar.Pada biji ada kalanya tali pusar ikut tumbuh dan berubah sifatnya menjadi selaput biji (arillus).Salut biji ada yang berdaging, misalnya pada biji durian dan ada yang berair misalnya pada biji rambutan.Serta ada juga yang menyerupai kulit dan hanya menutupi sebagian biji, misalnya pada biji pala.( Hidayat: 1995)
b. Embrio
Embrio adalah suatu tanaman baru yang terjadi dari bersatunya gamet-gamet jantan dan betina pada suatu proses pembuahan. Embrio yang perkembangannya sempurna akan memiliki struktur sebagai berikut: epikotil (calon pucuk), hipokotil (calon akar) dan kotiledon (calon daun). ( Suradinata: 1998)

c. Cadangan Makanan
Cadangan makanan merupakan kandungan yang ada dalam biji, baik dalam jumlah sedikit maupun banyak. Biji yang sedikit atau bahkan tidak ada. Cadangan makanan disebut biji eskalbumin. Cadangan makanan berfungsi sebagai jaringan penyimpan. Cadangan makanan memperkuat daya serap biji akan hara yang diperlukan tumbuhan dalam perkembangannya. Cadangan makanan bersel kecil berwarna putih agak kelabu, berdinding tipis, mengandung butir aleuron dan tetes minyak serta bahan cadangan tersimpan di dalam selnya. (Suradinata: 1998)
Perkembangan cadangan makanan umunya dimulai sebelum perkembangan embrio. Cadangan makanan berkembang dari pembelahan mitosis inti endosperm yang dihasilkan dari peleburan salah satu gamet jantan dengan 2 inti kutub atau dengan inti sekunder. Cadangan makanan tersebut kaya akan zat – zat makanan, yang disediakan bagi embrio yang sedang berkembang. Pada biji ada beberapa struktur yang dapat berfungsi sebagai jaringan penyimpan cadangan makanan yaitu:
1) Kotiledon, misal pada kacang-kacangan (Legumes), semangka (Citrullus vulgaris Schrad), labu (Cucurbita pepo L).

2) Endosperm, misal pada jagung (Zea mays L), gandum (Triticum aestivum L) dan golongan cerealia lainnya. Pada kelapa (Cocos nucifera bagian dalamnya yang berwama putih dan dapat dimakan adalah merupakan endospermnya. (Yatim: 2007)

2. Bagian Biji Luar
a. Lapisan kulit dalam (tegmen).
Biasanya tipis seperti selaput, disebut juga dengan kulit ari.Pada tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae), kulit biji terdiri dari tiga lapisan sebagai berikut.
1) Kulit luar (sarcotesta), biasanya tebal berdaging. Pada waktu masih muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kuning, dan akhirnya merah.
2) Kulit tengah (sclerotesta), suatu lapisan yang kuat, keras, dan berkayu.
3) Kulit dalam (endotesta), biasanya tipis seperti selaput dan seringkali melekat erat pada inti. (Hidayat: 1995)

b. Lapisan kulit luar (testa).
Pelindung biji terdiri atas kulit biji, sisa-sisa nucleus, endosperm dan kadang-kadang bagian dari buah. Tetapi umumnya kulit biji (testa) berasal dari integument ovule yang mengalami modifikasi selama proses pembentukan biji berlangsung.
Kulit biji (testa) berkembang dari jaringan integumen yang semula mengitari ovula (bakal biji). Tatkala biji masak, kulit biji ini dapat setipis kertas (misalnya pada kacang tanah) atau tebal dan keras seperti pada kelapa. Kulit biji ini berguna untuk menjaga lembaga (embrio) dari kekeringan dan kerusakan mekanis.
Biasanya kulit luar biji keras dan kuat berwama kecoklatan sedangkan bagian dalamnya tipis dan berselaput. Kulit biji berfungsi untuk melindungi biji dari kekeringan, kerusakan mekanis atau serangan cendawan, bakteri dan insekta. (Campbell:2008)

c. Sayap (ala) dan Rambut (coma)
Berbagai jenis tumbuhan mempunyai alat tambahan yang berupa sayap pada kulit luar biji, dengan demikian biji tumbuhan tersebut mudah penyebarannya oleh angin. Misalnya pada biji kelor dan mahoni. Selain sayap ada juga beberapa tumbuhan yang memiliki rambut atau bulu halus yang berasal dari penonjolan sel-sel kulit luar biji. Bulu halus ini memudahkan beterbangannya biji oleh tiupan angin. Misalnya pada biji kapas dan biji randu. (Campbell:2008)

C. Perbedaan Biji Monokotil dan Dikotil
1. Biji Monokotil
Tumbuhan berkeping biji tunggal (atau monokotil) adalah salah satu dari dua kelompok besar tumbuhan berbunga yang bijinya tidak membelah karena hanya memiliki satu daun lembaga. Biji monokotil memiliki endosperma sehingga makanan untuk pertumbuhan embrio berasal dari endosperma. (yatim: 2007)
2. Biji Dikotil
Tumbuhan berbiji belah atau tumbuhan berkeping biji dua adalah segolongan tumbuhan berbunga yang memiliki ciri khas yang sama dengan memiliki sepasang daun lembaga(kotiledon:daun yang terbentuk pada embrio) berbentuk sejak dalam tahap biji sehingga biji sebagian besar anggotanya bersifat mudah terbelah dua. Biji dikotil tidak memiliki endosperma. Makanan untuk pertumbuhan embrio berasal dari kotiledon. (Hidayat: : 1995)